Volume 4 no 2

KELUARGA KRISTIANI

Drie S.Brotosudarmo
Sekolah Tinggi Teologia Jemaat Kristus Indonesia
Salatiga, Indonesia
eyangdrie@yahoo.com

 

ABSTRACT

Christian family is a family that believes and puts the Lord Jesus Christ as the Savior of the family and make it a center of guidance, direction, basic in building a family. Thus the Christian family are expected to impose Christian values ​​in a foster family.

The family as a source of stimulation to the formation of personality traits. Therefore, there should be efforts through things that affective. In doing so, it is worth noting the approach in children, behavioral changes and should be based on love.

Struggles or problems facing families can also come from outside or external factors eg family environment. This can occur because of a relationship or the relationship of parents who are less well with the environment or child with the environment. Moreover, modern lifestyle that offers all kinds of beauty and luxury would trigger a struggle within the family.

As social beings we can not live alone. We need and depend on others. We need social interaction and communication with other parties. In other words, we need interaction and communication with others. Meanwhile there are relationships that can support our life/positive, but there are also the result of our life becomes less good/negative. Therefore, we must be able to manage/management of our association, so that we do not fall into the negative or free association.

The Bible gives a statement, promise and hope for families who want to grow in Christ. God is acceptable to the Christian family is a family that is deeply rooted, grow and bear fruit in Christ. For example: sapodilla trees are still small, is growing visible because there appears buds and new leaves grow. The tree is still relatively short, but already bearing fruit and the fruit quite a lot when compared with the trees are still small / short. From this example we will learn how a Christian family took root, grow and bear fruit in Christ. What does the root, grow and bear fruit in Christ. Christian family is a family that believes and puts the Lord Jesus Christ as the Savior of the family and make it a center of guidance, direction, basic in building a family. Thus the Christian family are expected to impose Christian values ​​in a foster family.

The family as a source of stimulation to the formation of personality traits. Therefore, there should be efforts through things that affective. In doing so, it is worth noting the approach in children, behavioral changes and should be based on love.

Struggles or problems facing families can also come from outside or external factors eg family environment. This can occur because of a relationship or the relationship of parents who are less well with thet environment or child with the environment. Moreover, modern lifestyle that offers all kinds of beauty and luxury would trigger a struggle within the family.

As social beings we can not live alone. We need and depend on others. We need social interaction and communication with other parties. In other words, we need interaction and communication with others. Meanwhile there are relationships that can support our life/positive, but there are also the result of our life becomes less good/negative. Therefore, we must be able to manage/management of our association, so that we do not fall into the negative or free association.

The Bible gives a statement, promise and hope for families who want to grow in Christ. God is acceptable to the Christian family is a family that is deeply rooted, grow and bear fruit in Christ. For example: sapodilla trees are still small, is growing visible because there appears buds and new leaves grow. The tree is still relatively short, but already bearing fruit and the fruit quite a lot when compared with the trees are still small/short. From this example we will learn how a Christian family took root, grow and bear fruit in Christ. What does the root, grow and bear fruit in Christ.

Keywords:     keluarga, kristiani, cinta kasih, hidup modern, berakar, bertumbuh, berbuah, Kristus.

  

PENDAHULUAN

Tulisan ini dibuat sangat praktis dengan tujuan dapat dimanfaatkan untuk membentu para pemimpin jemaat dalam rangka pembinaan warga gereja, khususnya dalam program gereja dalam hal ini adalah: acara “Minggu keluarga”. Demikian juga dapat dipakai untuk mempersiapkan para calon pengantin (katekisasi pra nikah). Walaupun tulisan ini disusun sangat praktis, namun tidak mengabaikan hal-hal yang ilmiah dan teologis dengan mem-perhatikan dasar-dasar apa kata firman Tuhan.

Apakah yang dimaksud dengan keluarga kristiani itu? Untuk memahami keluarga kristiani, kita harus mengerti apa yang disebut dengan keluarga. Keluarga adalah unit yang terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari ayah/suami, ibu/istri dan anak/anak-anak. Inilah yang disebut keluarga inti. Istilah keluarga berasal dari bahasa Jawa: “kula (saya, aku) dan “warga (anggota). “Kulawarga” berarti anggota atau kelompok kerabat. Keluarga adalah lingkungan di mana beberapa orang yang masih memiliki hubungan darah. Keluarga sebagai kelompok sosial terdiri dari sejumlah individu, memiliki hubungan antar individu, terdapat ikatan, kewajiban dan tanggung jawab di antara individu itu.

Secara singkat, yang disebut sebagai keluarga kristiani adalah keluarga yang meyakini dan menempatkan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juru Selamat keluarga dan menjadikanNya sebagai pusat pedoman, arah, dasar dalam membangun keluarga. Dengan demikian diharapkan keluarga kristiani memberlakukan nilai-nilai kristiani dalam membina keluarga.

DASAR ALKITABIAH PERNIKAHAN KRISTEN

Sebuah keluarga dibangun melalui pernikahan. Demikian juga keluarga Kristen. Pernikahan memang dikehendaki oleh Tuhan. Alkitab bersaksi melalui Kejadian 2:24 demikian: “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging“. Istilah “Meninggalkan” bukan hanya tentang perubahan tempat, melainkan mengandung maksud kewajiban utama seorang suami tidak lagi kepada orang tuanya, tetapi beralih kepada istrinya. Artinya istri harus didahulukan daripada ayah dan ibunya. Istilah “Menjadi satu daging“ berarti memberi makna, bahwa hubungan antara laki-laki dan perempuan sebagai satu daging yang pasti berbeda dengan hubungan antara orang tua dan anak.

Menjadi satu daging berarti juga bersatu, atau melekat, dengan istrinya. Maksudnya, istri harus didahulukan daripada ibu dan ayahnya. Laki-laki harus menempatkan istrinya sebagai prioritas utama dalam hidupnya. Demikian juga istri harus mendahulukan suaminya daripada keluarganya. Lebih lanjut J.Verkuyl dalam bukunya Etika Seksuil menyatakan bahwa pernikahan adalah peraturan suci yang ditetapkan Tuhan.[1]  Dalam Kej 1 : 27-28, telah dinyatakan bahwa:

  1. Allah menciptakan manusia menurut gambar-
  2. Manusia diciptakan sebagai laki-laki dan perempuan.
  3. Allah memberkati mereka.
  4. Allah memberikan mandat/tugas kepada manusia yakni:
    1. Beranak cucu dan bertambah banyak, penuhi bumi (bergenerasi).
    2. Menaklukkan dan menguasai dunia (termasuk makhluk lainnya).

Sifat dari firman Tuhan dalam Kej 1:27-28 itu sangat sistematis. Awalnya manusia diciptakan sebagai gambar-Nya, diciptakan atas laki-laki dan perem-puan, diberkati baru diberi mandat/tugas. Penciptaan manusia atas laki-laki dan perempuan menunjukkan inisiatif Allah agar manusia bersatu dalam sebuah keluarga dan menghasilkan keturunan. Lebih dari itu, Tuhan meng-hendaki manusia menjadi partner/teman sekerja Allah di dunia ini. Laki-laki dan perempuan diciptakan a-simetris agar laki-laki dan perempuan saling melengkapi, saling menolong dan  saling mengisi. Hal ini tidak hanya dalam hal seksual tetapi dalam segala aspek kehidupan. Selanjutnya dalam Kej 2:18-25 juga menegaskan bahwa : “…tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya yang sepadan dengan dia…”. Ayat ini ingin menjelaskan bahwa sejak awal, Allah menetapkan hubungan antara laki-laki dan perempuan adalah hubungan yang sederajat, seimbang dan sepadan. Hawa tidak diciptakan lebih rendah kedudukannya daripada Adam. Hawa justru menjadi penolong yang setara atau sepadan bagi Adam.

Dari ayat ini makin nampak jelas bahwa keluarga/rumah tangga memang dikehendaki Tuhan dan itu berarti bahwa keluarga/rumah tangga adalah sesuatu yang sakral/suci dan untuk seumur hidup. Dalam Mzm 127:1 dikatakan bahwa “…Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya…”. Demikian juga dalam Mat 19:4-6 dikatakan demikian:  “…mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu apa yang dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia”. Itulah sebabnya, dalam rangka membentuk suatu keluarga, tidak boleh sembarangan dan “asal jadi”.

KELUARGA KRISTEN YANG IDEAL

Sesuai yang dikehendaki Tuhan dalam firmannya, maka keluarga Kristen diharapkan menjadi keluarga yang ideal berdasarkan kriteria demikian:

  1. Monogami, satu-suami, satu-istri. Karena itu kekristenan menolak dengan tegas segala bentuk perselingkuhan, poligami, poliandri dan perceraian. Pembentukan keluarga adalah kehendak Allah sendiri (Mrk 10:6-9, I Kor 7: 10-11). Suatu pernikahan yang kudus atau suci.
  2. Kasih yang utuh, tak mungkin dibagi-bagi. Kasih yang diberikan dari satu suami kepada satu istri dan sebaliknya. Suatu kasih yang sifatnya eksklusif, bukan kasih yang bersifat umum.
  3. Menjadi satu daging (Kej 2:24, Mat 9:5). Hal ini hanya mungkin dari satu suami dan satu istri. Mereka tidak lagi “dua” tetapi “satu”.
  4. Taat kepada Allah, diwujudkan dalam kesetiaannya kepada Tuhan.
  5. Taat kepada Allah, diwujudkan dalam hormat kepada Allah yang menjadi dasar hormat satu sama lain dalam rumah tangga.
  6. Taat kepada Tuhan yang diwujudkan dalam mengasihi satu sama lain sebagai suami-istri, orang tua-anak dalam keluarga.

 

PERANAN, TUGAS DAN FUNGSI KELUARGA

 Keluarga sebagai sumber stimulasi ke arah terbentuknya ciri kepribadian.  Oleh sebab itu harus ada usaha melalui hal-hal yang afektif. Dalam melaksanakan hal itu, maka perlu diperhatikan pendekatan pada anak, perubahan tingkah laku dan harus didasarkan pada cinta kasih.[2]

Berbicara tentang peranan, tugas dan fungsi keluarga, maka keutuhan keluarga dapat dipelihara dengan memperkokoh ikatan keluarga terutama kesatuan antara suami dan isteri atau ayah dan ibu sebagai pemeran utama.[3]  Dasar dari peranan, tugas dan fungsi keluarga adalah: cinta kasih, kesaling-pengertian dan toleransi di antara anggota keluarga.  Apabila dalam keluarga membuat tata tertib keluarga yang telah dibuat dan disepakati bersama, itu harus diperhatikan dengan sangat dan ditaati bersama oleh setiap anggota keluarga. Semua itu dengan catatan, bahwa masing-masing anggota keluarga harus tidak kehilangan kepribadiannya. Itulah sebabnya masing-masing anggota keluarga harus membina relasi sehingga terjadi komunikasi yang harmonis.

Secara praktis berbagai peranan, tugas dan fungsi keluarga dapat disebutkan demikian:

  1. Ayah berperan sebagai kepala keluarga, sebagai suami dari istri dan ayah dari anak-anak berperan sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman. Ibu sebagai istri dan ibu dari anak-anak, berperan mengurus rumah tangga, pengasuh, pendidik anak-anaknya dan pelindung anak-anaknya.
  2. Anak-anak berperan membantu orang tua sesuai tingkat perkembangan-nya baik fisik, mental, sosial dan spiritual. Meski masing-masing memiliki kewajiban yang berbeda namun mereka (suami istri) setara dalam tugas dan kewajiban.
  3. Fungsi yang harus dijalankan keluarga adalah: pendidikan bagi anak-anak untuk masa depan. Demikian juga fungsi sosialisasi. Orang tua memper-siapkan anak menjadi anggota masyarakat yang baik.
  4. Fungsi perlindungan. Orang tua melindungi anak-anaknya sehingga ada rasa aman dan nyaman.
  5. Fungsi agama. Orang tua memperkenalkan agama/keyakinan/iman/ Tuhan Yesus sebagai Juruselamat dan Tuhan atas keluarga dan anak-anak. Memperkenalkan dan menerapkan Tuhan sebagi penolong dan sosok yang dapat diandalkan.
  6. Fungsi ekonomi, rekreatif (misalnya nonton TV bersama, makan bersama, berenang bersama, piknik bersama dan sebagainya).

Dari keterangan di atas dapat kita simpulkan bahwa:

  1. Keluarga merupakan persekutuan orang-orang yang dipersatukan oleh Tuhan dan merupakan unit yang terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari ayah/suami, ibu/istri dan anak/anak-anak.
  2. Keluarga Kristen adalah keluarga yang meyakini dan menempatkan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juru Selamat keluarga dan menjadikan-Nya sebagai pusat pedoman, arah, dasar dalam membangun keluarga.
  3. Dalam keluarga terdapat peranan, fungsi dan tugas masing-masing anggota

 PERGUMULAN INTERNAL DALAM KELUARGA

 Di atas telah diterangkan tentang keluarga kristen, bahwa keluarga kristen itu adalah keluarga yang setia dan berbakti kepada Tuhan Allah. Keluarga yang menempatkan Tuhan Yesus sebagai Jurumudi keluarganya. Keluarga Kristen adalah persekutuan hidup di mana setiap anggota keluarga melakukan perannya dengan baik dan bertanggungjawab. Setiap keluarga termasuk keluarga Kristen memiliki pergumulan atau suatu masalah yang harus dipecahkan. Masalah ini dapat berasal dari dalam keluarga sendiri atau sering disebut sebagai masalah internal keluarga. Ada juga masalah keluarga yang datang/berasal dari luar keluarga/eksternal. Masalah dalam keluarga baik yang internal maupun eksternal harus digumuli, dipikirkan, dicari jalan keluarnya sehingga keluarga merasakan ketenteraman, kehangatan, keharmonisan dan kebahagiaan.

 Pergumulan atau masalah yang datang dari dalam keluarga dapat berasal dari orang tua (suami istri), orang tua dengan anak dan masalah anak. Adapun perwujudan masalah tersebut antara lain:

  1. Orang tua/ayah dan ibu tidak menjalankan perannya dengan baik. Misalnya: Seorang ayah karena keterbatasannya tidak memiliki pekerjaan tetap sehingga tidak dapat mencukupi kebutuhan Seorang ibu tidak dapat menjalankan perannya sebagai ibu karena harus membantu suaminya mencukupi kebutuhan keluarga. Akibatnya anak-anak tumbuh secara alami dan kurang mendapat perhatian dan kasih sayang orang tua.
  2. Seorang istri yang juga seorang ibu harus pergi ke Luar Negeri sebagai TKI/TKW. Hal ini berdampak pada keluarga yang ditinggalkan. Suami bisa affair dengan wanita lain dan anak-anak kurang kasih sayang ibu.
  3. Orang tua/ayah atau ibu berselingkuh karena berbagai alasan/sebab. Hal ini berdampak pada ketenteraman rumah tangga dan anak-anak.
  4. Orang tua yang sangat berkecukupan karena berpenghasilan tinggi (pengusaha/pejabat) mungkin dapat “melupakan“ anak-anaknya. Akibat-nya adalah: anak-anak mencari perhatian lain di
  5. Ada anggota keluarga yang kurang beruntung misalnya cacat tubuh, cacat mental, mengidap penyakit yang sulit disembuhkan dan sebagai-
  6. Tidak memiliki keturunan.
  7. Ada anak (pria/wanita) yang enggan menikah.
  8. Perbedaan pendapat antara orang tua dan anak perihal pendidikan, jurusan atau fakultas dan pekerjaan sehingga memicu konflik.
  9. Model pendidikan orang tua terhadap anak yang over protective (perlin-dungan yang berlebihan), over demanding (permintaan yang berlebihan) atau bahkan over avoid (menghindari yang berlebihan).
  10. Tidak memiliki pekerjaan.

 

PERGUMULAN EKSTERNAL DALAM KELUARGA

Pergumulan atau permasalahan yang dihadapi keluarga juga bisa datang dari faktor luar atau eksternal keluarga misalnya lingkungan. Hal ini dapat terjadi karena hubungan atau relasi orang tua yang kurang baik dengan lingkungan atau anak dengan lingkungan. Apalagi gaya hidup modern yang menawarkan segala macam keindahan dan kemewahan ikut memicu pergumulan dalam keluarga.

Perwujudan pergumulan keluarga yang disebabkan karena faktor eksternal antara lain:

  1. Orang tua/keluarga yang kurang diterima masyarakat sekelilingnya.
  2. Pergaulan baik di sekolah maupun lingkungan rumah yang kurang sehat.
  3. Pergaulan dengan teman-teman yang tidak mendukung yang mengakibatkan terperangkap ke penggunaan narkoba, mabuk-mabukan, seks bebas.
  4. Kegagalan studi karena salah pergaulan.
  5. Hamil sebelum menikah karena pergaulan yang kurang terkontrol.
  6. Gaya hidup modern misalnya penggunaan alat-alat elektronik, tayangan TV dengan iklan-iklannya, mall yang bertebaran dan menawarkan segala sesuatu yang menggiurkan.

APAKAH ALKITAB JUGA MENGENAL PERGUMULAN KELUARGA ?

Dalam Kej 16:1-16, menceritakan tentang pergumulan yang dialami oleh Abraham dan Sara karena ketiadaan anak. Secara ringkas dijelaskan bahwa Abraham dan Sara sudah tua dan secara medis tidak dapat beranak (menopause). Maka Sara mengusulkan agar Abraham mengambil Hagar hamba-nya untuk dijadikan istri. Hal inipun disetujui Abraham dan akhirnya mereka memiliki anak yang dinamai Ismail. Namun ternyata keluarga ini juga tidak tenteram dan mendapatkan masalah baru karena sikap Hagar yang tidak menghormati Sara nyonyanya yang berakibat Hagar diusir.

Demikian juga dalam Ayub 1 dan 2, adalah cerita mengenai pergumulan Ayub yang imannya diuji Tuhan. Ayub adalah seorang yang saleh, jujur, takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Ia dikaruniai 7 anak laki-laki dan 3 anak perempuan serta kekayaan yang sangat banyak. Kekayaanya terdiri dari 7.000 ekor kambing domba, 3.000 ekor unta, 500 pasang lembu, 500 keledai betina dan budak-budak yang sangat banyak. Ayub tercatat sebagai seorang yang paling kaya di wilayah itu. Namun dalam sekejab semua yang dimiliki, anak-anak dan semua kekayaanya ludes. Cerita selanjutnya menyatakan kepada kita, bahwa iman Ayub tetap tangguh, setia dan tidak berbuat dosa.

Dalam I Sam 19-24, menceritakan tentang pergumulan Daud yang dibenci Saul. Daud mengalami pengejaran oleh Saul dan Daud bersembunyi dari satu tempat ke tempat lain. Akar dari kebencian Saul terhadap Daud karena Saul iri dengan kehebatan dan keberhasilan Daud yang mengalahkan dirinya. Namun karena penyertaan Tuhan, Daud dapat melalui segala penderitaan-nya,  menjadi raja yang termasyur. Pergumulannya selalu dihadapi bersama Tuhan dan melahirkan banyak pasal yang indah dalam kitab Masmur. (Catatan: Baca dan hayatilah Masmur-masmur Daud dalam Alkitab).

Dalam Kej 19, menceritakan tentang keluarga Lot yang berdiam dan hidup di Sodom dan Gomora. Sodom dan Gomora terkenal dengan kehidupan kota dan masyarakatnya yang moralitasnya rendah. Kota Sodom terkenal kejahatan-nya dengan penyimpangan seksual yang sekarang ini terkenal dengan istilah “sodomi” dan kota Gomora terkenal denga kejahatan seksual yang berupa homoseksual dan lesbianisme. Mereka melakukan percabulan, ketidaksetiaan dan segala kejahatan. Tuhan tidak berkenan, sehingga Sodom dan Gomora dihancurkan. Cerita ini menggambarkan betapa masyarakat atau lingkungan maupun pergaulan yang tidak baik mengakibatkan hal-hal yang tidak baik juga. Namun Tuhan mengingat akan perjanjian-Nya kepada Abraham maka Tuhan mengeluarkan/menyelamatkan Lot dari Sodom dan Gomora. Namun pada akhirnya keluarga Lot juga hancur karena terlekat pada budaya Sodom dan Gomora.

Dalam Luk 2:41-52, Maria dan Yusuf yang bergumul mencari remaja Yesus. Namun akhirnya, mereka menemukan Tuhan Yesus sedang berbincang dengan para pemuka agama di Bait Allah. Tuhan Yesus memakai masa remaja dengan baik, melebihi remaja-remaja di jaman itu. Tujuannya untuk mencari Kerajaan Allah dan kehendak Allah melebihi aspek-aspek yang lain. Dia berkembang hidupnya secara komprehensif dan positif.

Dalam I Tim 1:5, Pergumulan ibu Eunike, nenek Lois dan Timotius. Ibu Eunike dan nenek Lois adalah janda yang beriman, yang membesarkan remaja Timotius di tengah keterbatasan mereka. Timotius adalah remaja yang secara fisik sering tidak sehat. Namun pergumulan dan usaha mereka berbuah sangat indah. Remaja Timotius akhirnya menjadi pemimpin muda yang handal, dekat dengan Tuhan, memiliki kepribadian Kristen teruji dan menjadi gembala/pe-mimpin jemaat yang tangguh. Dia membawa banyak orang mengenal dan menerima Tuhan.

MENGELOLA/MANAJEMEN PERGAULAN

Sebagai makhluk sosial kita tidak dapat hidup sendiri. Kita membutuhkan dan bergantung kepada orang lain. Kita membutuhkan interaksi sosial dan komunikasi dengan pihak lain. Dengan kata lain kita membutuhkan pergaulan dan komunikasi dengan orang lain. Sementara itu ada pergaulan yang dapat mendukung kehidupan kita/positif, tetapi ada juga yang mengakibatkan kehidupan kita menjadi kurang baik/negatif. Oleh karena itu kita harus dapat mengelola/me-manage pergaulan kita, agar kita tidak jatuh kedalam pergaulan negatif atau bebas.

Apakah pergaulan bebas itu? Secara umum pergaulan bebas dipahami sebagai pergaulan yang tidak memperhatikan atau tidak memberlakukan nilai-nilai dan norma-norma umum maupun agama. Hal ini biasa dilakukan oleh kaum muda terutama kaum remaja yang sedang mencari identitas, sehingga banyak hal yang dilakukan remaja yang pada gilirannya dapat jatuh kedalam pergaulan bebas dan berakibat kurang baik. Misalnya suka keluar malam, clubbing, membuka dan melihat situs-situs porno di internet, melihat blue film, game online yang tidak mengenal waktu, jatuh ke narkoba, hamil sebelum nikah.

CARA MENGELOLA PERGAULAN AGAR TIDAK JATUH KE DALAM PERGAULAN BEBAS

Sesungguhnya banyak hal yang dapat dilakukan agar tidak jatuh ke dalam pergaulan bebas. Keluargalah yang mempunyai peran penting dalam membantu pergaulan anak remajanya. Keluarga mempunyai tanggungjawab besar terhadap pendidikan anak-anaknya, karena orang tua/keluarga sebagai wakil Allah yang harus mempertanggungjawabkan pendidikan anak kepada Tuhan. Pertama-tama dari keluarga. Sering kita mengenalkan siapa Tuhan, itu berarti anak-anak harus dididik agar spiritualitasnya tumbuh dan berkembang sehingga dalam hidup mereka akan takut kepada Tuhan,  dan memberlakukan nilai-nilai kristiani.

Cara yang dipakai misalnya dengan mengadakan ibadah/kebaktian keluarga. Orang tua sepantasnya memperhatikan pergaulan anak-anaknya, melihat dengan siapa ia berteman, mengetahui orang tua teman anaknya, kegiatan anak di sekolah dan di luar sekolah, kegiatan anak di gereja, di lingkungan rumah. Menjalin komunikasi dengan sekolah, guru/wali kelas dan menanyakan perkembangan anaknya. Mendisiplin anak sehingga anak tidak mudah meman-faatkan kesempatan untuk hal-hal yang kurang baik. Memberikan reward (peng-hargaan) mana kala anak berbuat kebaikan ataupun sanksi manakala anak berbuat kesalahan. Sebagai remaja yang bertanggung jawab, berhati-hatilah mengelola kehidupan dan masa depan. Apa yang kamu lakukan bisa mem-bawa dampak negatif atau positif bagi keluarga. Jadilah berkat bagi keluarga. Bantulah orang tuamu dalam berbagai keterbatasannya. Ingatlah Hukum Sepu-luh Perkara pada fasal ke 5 demikian: “Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu” (Kel 20:12).

Dari keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa:

  1. Dalam kehidupan keluarga pasti pernah menghadapi masalah. Tetapi masalah tersebut dapat diatasi asal keluarga menghadirkan Tuhan untuk menolongnya.
  2. Dalam Alkitab ada beberapa contoh keluarga yang menghadapi pergumulan Namun demikian pasti Tuhan Yesus selalu menolong mereka.
  3. Setiap keluarga Kristen yang sedang bergumul menghadapi masalah dapat menyelesaikan masalah dengan cara mengelolanya dengan baik melalui komunikasi yang baik antar anggota keluarga.
  4. Ancaman pergaulan bebas memang ada. Untuk menyelesaikannya, harus ada pengelolaan dengan memegang prinsip sesuai dengan Firman Tuhan di dalam Keluaran 20:12, yakni menghormati orang tua.

 

KELUARGA KRISTEN YANG BERTUMBUH          

Kita sudah memahami apakah yang dimaksud dengan keluarga Kristen. Sekarang kita akan belajar bagaimana keluarga Kristen ini bertumbuh dalam Kristus. Mengapa? Karena keluarga Kristen diharapkan tidak hanya statis tetapi terus bertumbuh makin hari makin sempurna dan menyerupai Kristus.

  1. Apa arti bertumbuh ?

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia mencatat bahwa bertumbuh adalah: timbul (hidup) dan bertambah-tambah besar atau bertambah-tambah sempurna. Sedang berkembang menjadi besar, sempurna.[4] Apabila ilustrasi atau gambaran sesuai dengan pengertian tersebut dikenakan pada keluarga Kristen, berarti keluarga yang bertumbuh semakin besar dan sempurna di  dalam Kristus.  Keluarga yang bertumbuh dalam Kristus seharusnya bertumbuh secara rohani dan berkarakter  semakin serupa dengan citra Kristus.

  1. Bagaimana cara bertumbuh?

Kalau kita belajar dari tanaman, bertumbuh berarti hidup, makin lama makin tinggi, makin besar, makin kuat akarnya dan pada waktunya berbuah. Nah bagaimana cara bertumbuh dalam Kristus? Salah satu cara adalah melakukan FirmanNya! Seperti yang dikatakan oleh Yakobus dalam Yak 1:22 “Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku Firman dan bukan hanya pendengar saja…” Dengan melakukan Firman, iman kita akan bertumbuh, berkembang dan menghasilkan buah. Melakukan Firman Tuhan dalam kondisi yang biasa, misalnya dalam hal keuangan cukup, waktu ada, kepandaian dan ketrampilan ada, suasana keluarga mendukung, pergaulan sosial menyenangkan tentu agak mudah meski sulit juga bagi banyak orang. Namun melakukan Firman Tuhan dalam kondisi yang tidak biasa dan istimewa misalnya dalam kondisi yang terpuruk, sakit menahun, memiliki pergumulan keluarga yang tidak terselesaikan, maka melakukan Firman Tuhan dan setia kepada-Nya sangat sulit dilakukan. Tetapi itulah yang dikehendaki Tuhan, dalam kondisi apapun kita dalam suka maupun duka, senang atau tidak senang, kita diharapkan melakukan/mempraktikkan dan setia terhadap Firman-Nya. Sesung-guhnya pernyataan ini sering kita dengar dan bahkan kita ucapkan, namun apakah benar kita sudah mempraktekkan/melakukannya?

Contoh sederhana saja, sudahkah kita mengampuni bapak dan ibu kita yang agak menyinggung perasaan kita? Sudahkah kita minta maaf kepada kakak adik karena pertengkaran yang kita mulai? Apakah kita sudah mempersembah-kan talenta kita untuk keluarga dan Gereja. Sesungguhnya kita sudah tahu, tetapi kita sering mengeraskan hati kita dan tidak mau melakukannya. Tetapi sekarang kita tahu bahwa melakukan/mempraktekkan Firman serta taat kepada-Nya dalam konteks keluarga adalah tanda bahwa kita sedang bertumbuh. Yak 1:2-4, menyatakan kepada kita justru dalam pencobaan yang kita alami, iman kita akan bertumbuh. Ia bersaksi: “… anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh kedalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan… dan ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna…

3.  Keluarga Kristen yang bertumbuh dalam Kristus

Alkitab memberikan pernyataan, janji dan pengharapan bagi keluarga yang ingin bertumbuh di dalam Kristus. Keluarga Kristen yang diperkenan Tuhan adalah keluarga yang berakar, bertumbuh dan berbuah di dalam Kristus. Misalnya: pohon sawo yang masih kecil, kelihatan sedang bertumbuh karena nampak ada tunas-tunas dan daun yang baru bertumbuh. Pohon ini masih relatif pendek namun sudah berbuah dan buahnya lumayan banyak jika dibanding dengan pohonnya yang masih kecil/pendek. Dari contoh ini kita akan belajar bagaimana keluarga Kristen berakar, bertumbuh dan berbuah dalam Kristus. Lalu, apakah arti berakar, bertumbuh dan berbuah di dalam Kristus?

 

 1.Berakar

Akar memang tidak kelihatan namun fungsinya sangat menentukan. Akar berfungsi menyerap air dan zat-zat makanan dari dalam tanah yang dapat menumbuhkan dan menyuburkan serta memperkuat tanaman. Jika akar tidak menancap dengan baik dan tidak dapat memberi makanan bagi pohonnya maka pertumbuhan pohon akan terganggu dan kurang baik. Sebaliknya jika akar kuat, pohon akan kuat pula. Dan seandainya ada hujan dan angin yang kuat, kecil kemungkinan pohon akan tumbang. Demikian juga seseorang/ keluarga yang berakar kuat dalam Kristus, sumber kehidupan, sumber makanan rohani, sumber kekuatan akan menjadi kokoh. Mana kala menghadapi tantangan, pencobaan, persoalan, pergumulan hidup akan tetap kokoh karena memiliki sumber kekuatan, penghiburan dari Tuhan. Mereka akan tetap kuat dalam menghadapi setiap persoalan kehidupan rumah tangga/ keluarga mereka.

2.Bertumbuh

”Bertumbuh”. Sama halnya dengan pertumbuhan, maka bertumbuh berkaitan dengan berubah/perubahan. Tanaman dikatakan bertumbuh jika menampak-kan perubahan semakin tinggi, semakin besar dan semakin berkembang. Akar yang sehat akan menghasilkan pertumbuhan. Demikian juga kehidupan orang percaya/keluarga Kristen bertumbuh dalam pengetahuan dan pengenalan akan Allah. Firman Tuhan demikian:  “… sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasa-an penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, — yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota — menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih” (Ef 4:13-15).

3. Berbuah

Buah dalam hal ini adalah buah-buah Roh seperti yang dicatat di Gal 5:22 antara lain: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Jika kita menanam pohon mulai dari kecil tumbuh menjadi besar, tinggi, pada akhirnya kita mengharapkan pohon kita akan berbuah. Itu berarti bertumbuh tanpa berbuah adalah percuma. Di Yoh 15:2 dikatakan: “Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah,  dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah”. Allah menghendaki setiap pribadi Kristen/keluarga Kristen berbuah. Buah yang dikehendaki adalah melakukan kehendak-Nya. Salah satu buah melakukan kehendak-Nya adalah melakukan pelayanan. Per-tumbuhan yang sehat akan berbuahkan pelayanan kepada Tuhan yang diwujudkan kepada sesama (Mat 7:15-20).

  1. Apa yang dapat dilakukan keluarga kristen agar berakar, bertumbuh dan berbuah?

Ada beberapa cara sederhana yang dapat dilakukan. Namun yang sederhana ini menuntut kedisiplinan dan komitmen yang tinggi dari anggota keluarga, agar sungguh-sungguh keluarga dapat disebut sebagai keluarga yang berakar, bertumbuh dan berbuah.

  1. Menjadikan keluarga sebagai “gereja kecil”. Apa yang dilakukan? Gereja mempunyai tugas untuk bersaksi, bersekutu, melayani dan penatalayanan. Keluarga sebagai ”gereja kecil” juga memiliki fungsi yang sama. Dalam keluarga, setiap anggota harus belajar dan berlatih menjadikan keluarganya sebagai ”keluarga kecil”.
  2. Menciptakan suasana Kristiani yang kondusif:
  3. Ciptakan nuansa religius dalam keluarga. Misalnya menyediakan bacaan-bacaan rohani, kaset-kaset, cd/vcd yang membangkitkan sema-ngat iman Kristen. Sehingga kalau hal ini terbiasa maka akan ter-internalisasi dalam kehidupannya.
  4. Lengkapi simbol-simbol kekristenan di rumah, misalnya tulisan ayat yang menggugah iman anggota keluarga.
  • Buatlah ibadah secara teratur, disesuaikan dengan kondisi dan situasi anggota keluarga. Bisa dilakukan pagi hari sebelum beraktifitas atau malam hari sesudah semua berkumpul di rumah. Usahakan setiap anggota keluarga melakukan retreat pribadi di kamarnya dengan berdoa setiap hari, membaca Firman Allah setiap hari, melakukan Firman Allah yang dibaca hari itu setiap hari, mengundang Roh Kudus untuk memimpin hidupnya.
  1. Orang tua berusaha sedemikian rupa jadi teladan bagi anggota keluarganya. Sehingga anggota keluarga yang lain dapat meniru dari apa yang dilihatnya.

Orang tua menumbuhkan komitmen bersama melakukan nilai-nilai kristiani, misalnya mematuhi 10 hukum Tuhan (Kel 20:3-17), melakukan hukum kasih (Mat 22:37-39), buah-buah Roh (Gal 5:22-23). Sebaliknya meninggalkan kehidupan daging yang membawa kepada kehancuran dan dosa (Gal 5:19-21). Keluarga adalah tempat yang aman dan kondusif untuk tempat bertumbuh dan berkembangnya masing-masing pribadi.

Untuk berakar, bertumbuh dan berbuah di dalam Kristus, maka keluarga Kristen harus mengingat Yoh 15:4 yang mengatakan demikian: “Tinggalah di dalam Aku dan Aku didalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku“. Tuhan meng-hendaki setiap pribadi Kristen/keluarga Kristen berbuah. Untuk itu perlu kemauan kuat dan komitmen yang bulat. Pertumbuhan adalah proses seumur hidup. Pertumbuhan tidak diukur dari pengetahuan dan kepandaian kita tetapi diukur dari buahnya/perbuatan kita. Melakukan dan setia kepada kehendak/Firman Tuhan atau tidak.

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan:

  1. Keluarga Kristen yang berumbuh, berarti bertumbuh dan berkembang di dalam Kristus, sesuai dengan Firman Tuhan di Ef 4:13-15, yakni: mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.
  2. Pertumbuhan tersebut sampai kepada berbuah sesuai dengan yang dicatat di Gal 5:22.
  3. Bagi orang Kristen, apa yang dicatat di Gal 5:2 harus menjadi pedoman dalam sikap hidup sehari-hari.

MODERNISASI: ANCAMAN ATAU BERKAT DALAM KELUARGA?

 1. Pengertian Modernisasi

Modernisasi merupakan satu istilah yang menjadi mode atau trend setelah Perang Dunia ke-II, meskipun dengan pengertian tersebut kurang jelas. Tetapi secara umum, istilah “modernisasi” mencakup seluruh era sejak abad XVIII.[5]  Kata istilah “modernisasi” berasal dari kata modern yang dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia berarti baru, terbaru, cara baru atau mutakhir, sikap dan cara berpikir serta bertindak sesuai tuntutan zaman,[6] dapat juga diartikan maju, baik. Kata modernisasi merupakan kata benda dari bahasa Latin “modernus“ (modo: hanya, saja, semata-mata, baru saja, baru tadi atau model baru)[7] dan “annus/anni” (tahun, akhir tahun, masa kini)[8], dalam bahasa Perancis disebut moderne.

Modernisasi berarti proses menuju masa kini atau proses menuju masyarakat modern. Modernisasi dapat pula berarti perubahan dari masyarakat tradisional menuju masyarakat yang modern. Jadi, modernisasi merupakan suatu proses perubahan sosial di mana masyarakat yang sedang memperbaharui dirinya berusaha mendapatkan ciri-ciri atau karakteristik yang dimiliki masyarakat modern. Modernisasi dimulai dengan suatu kenyatan sekaligus hakikatnya bahwa dalam dirinya terdapat nilai-nilai baru, tingkah laku baru yang berakhir pada suatu hal yang bersifat kekinian dan kedisinian. Hal yang selalu baru itu meliputi semua bidang hidup.  Namun modernisme kemudian mendapat kritik yang sangat tajam, yang berakhir pada jaman Global atau jaman POSMO (Post-Modern). Sedangkan Post Modernisme dimengerti sebagai upaya untuk mengungkapkan segala konsekuensi dari akhir modernisme. Pada bidang kebudayaan, post modernisme mengusahakan secara logis kultural yang membawa transformasi dalam suasana modernisme dengan kapitalisme pasca Perang Dunia II yang pemunculannya berdasarkan dominasi teknologi reproduksi dalam jaringan global kapitalisme multinasional seperti sekarang ini.

Banyak ahli memberikan pengertian modernisasi dan pengertian yang diberikan terkait dengan disiplin ilmu yang dimilikinya di antaranya adalah: Menurut  Soerjono Soekanto, modernisasi adalah suatu bentuk dari perubahan sosial yang biasanya terarah dan didasarkan pada suatu perencanaan (social planning).[9]  Menurut Astrid S.Susanto, proses modernisasi adalah suatu perubahan total dari suatu masyarakat dalam keadaan tradisional menuju suatu masyarakat yang maju. Perubahan itu meliputi norma-norma yang merupakan inti kehidupan untuk mempertahankan kesatuan kehidupan suatu kelompok.[10] Sedangkan menurut J.W.Schoorl modernisasi adalah suatu proses perkembangan umum untuk semua masyarakat dan dapat menampung bentuk-bentuk kebudayaan dari perkembangan umum tersebut. Bersama dengan modernisasi, terjadi Westernisasi karena perkembangan masyarakat modern terjadi di Barat.[11] Modernisasi berarti: progress, yakni proses di mana seorang semakin menguasai alam kebendan dan lingkungan sosial. Dalam pada itu, tata tertib masyarakat tradisional didobrak, dirobek dan dipatahkan. Kemampuan individual, hasil kerja, fungsi dan effektifitasnya akan dihormati.[12]

Jadi, Modernisasi merupakan proses gejala umum yang terjadi, di mana semua bangsa terlibat dalam proses ini secara empirik.  Proses ini sekaligus proses transformasi besar dalam masyarakat dan kebudayaan, sehingga istilah “modernisasi” menunjuk kepada perubahan sosial, yakni: masya-rakat teknik industri dengan memakai cara-cara tradisional kepada cara-cara modern yang tertampung dalam pengertian yang terkait erat dengan Revolusi Industri,[13] dan Revolusi Politik. Sedangkan Revolusi Industri tersebut terjadi pada tahun 1761-1830. Revolusi Politik di Inggris terjadi pada tahun 1789-1794.[14]

Selanjutnya dikatakan bahwa modernisasi dapat terwujud apabila masya-rakatnya memiliki individu yang mempunyai sifat modern. Manusia modern mempunyai ciri-ciri itu sebagai berikut:

  1. Memiliki sikap hidup untuk menerima hal-hal yang baru dan terbuka untuk perubahan.
  2. Memiliki keberanian untuk menyatakan pendapat atau opini mengenai lingkungannya sendiri atau kejadian yang terjadi jauh di luar lingkungannya serta dapat bersikap demokratis.
  3. Menghargai waktu dan lebih banyak berorientasi ke masa depan dari pada masa lalu.
  4. Memiliki perencanaan dan pengorganisasian.
  5. Percaya diri.
  6. Menghargai harkat hidup manusia lain.
  7. Percaya pada ilmu pengetahuan dan teknologi
  8. Menjunjung tinggi suatu sikap dimana imbalan yang diterima seseorang haruslah sesuai dengan prestasinya dalam masyarakat.

Modernisasi tidak melanda pada bidang-bidang tertentu saja tetapi di segala bidang kehidupan. Modernisasi ditandai dengan adanya perubahan. Misalnya perubahan dari masyarakat desa menuju ke masyarakat maju. Tenaga manusia digantikan dengan mesin. Pemikiran manusia yang sederhana berubah lebih maju dan rasional. Hubungan keluarga/kekerabatan yang semula akrab dan dekat mulai menuju ke individualis. Masyarakat yang awalnya hidup bercocok tanam, bertani dan berternak berganti pola dengan bekerja di pabrik dan mall serta mulai meninggalkan desanya pindah ke kota-kota besar (urban).

Budaya tolong menolong terkikis dengan kepentingan pribadi. Mulai berpikir rasional dan menghargai waktu. Pekerjaan yang semula apa adanya berubah dengan pembagian kerja yang lebih baik/spesifik. Sifat menerima apa adanya mulai berubah berusaha mengejar prestasi karena dengan prestasi membawa seseorang kearah kemajuan. Modernisasi juga ditandai dengan adanya sikap terbuka dengan adanya kemajuan Ilmu Pengetahuan sekaligus mau mene-rapkan dalam kehidupan. Lebih dari itu masyarakat mulai berorientasi ke masa kini dan masa depan bukan masa lampau, dan segala sesuatu dimulai dengan perencanaan.

 2. Contoh-contoh modernisasi

Kalau kita akan menyebut contoh-contoh modernisasi yang ada dalam masyarakat tentu sangatlah banyak. Modernisasi mengubah gaya hidup masyarakat maupun perorangan. Di antaranya adalah :

  1. Di bidang elektronik, modernisasi membawa perubahan sikap dan gaya hidup yang tergantung dan mengandalkan alat-alat elektronik. Misalnya:
  • Mendengarkan musik menggunakan iPod, MP3 / MP4.
  • Komunikasi dengan menggunakan telepon seluler/HP, email dan chatting melalui internet.
  • Download video/lagu/film di internet.
  • Menonton TV, Film menggunakan VCD/DVD.
  • Menonton video dari You Tube/internet, bermain game online.
  • Pemakaian GPS pada mobil agar tidak tersesat.
  • Memanfaatkan jejaring sosial di internet, misalnya Facebook dan Twitter.
    1. Menjamurnya sikap hidup materialistis, hedonis, konsumtif dan individual-istis.
    2. Untuk shopping, orang memilih menggunakan creditcard dari pada cash/ Bank-bank juga berlomba-lomba menyediakan layanan yang menarik, praktis, mudah, efisien dan aman.
    3. Peran ganda wanita, sebagai istri, ibu dan sekaligus wanita karir.
    4. Kebiasaan pergi ke diskotik, café, minum minuman keras, pesta dan sebagainya.
    5. Penggunaan alat-alat rumah tangga yang serba listrik, praktis, mudah bersih, dan efisien, misalnya: rice cooker dan magic com, blender, juicer, mixer, kulkas, oven, mesin cuci, dish washer dan sebagainya.
    6. Penggunaan transportasi dengan berbagai keunggulan dari pada berjalan kaki atau naik becak, bajaj, andong.
    7. Menurunnya kerohanian dan spiritualitas serta kepedulian dan perhatian kepada sesamanya.

Contoh-contoh sikap hidup modern seperti itu pada gilirannya berpengaruh pada kepribadian keluarga terutama para remaja yang rentan akan perubahan dan sikap ingin tahu dan mencoba. Untuk itu pembekalan kerohanian dan budi pekerti dari rumah/orang tua sangat diperlukan agar anak yang hidup dalam era modernisasi tidak terjebak pada sikap-sikap yang tidak diinginkan.

 3. Apakah Alkitab juga berbicara tentang modernisasi?

Ya, Alkitab juga mencatat adanya proses modernisasi terutama nampak dalam hal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Perjanjian Lama dalam kitab Kej 4:20-22 mengisahkan keturunan Kain yakni anak-anak Lamekh. Yabal menerus-kan kehidupan berternak, Yubal mengembangkan kesenian, kecapi dan suling, dan Tubal Kain menjadi tukang tembaga dan tukang besi. Hal ini menunjukkan adanya kemajuan yang dilakukan masyarakat waktu itu yang memiliki kemampuan membuat alat untuk mempermudah kehidupannya. Kej 11:1-9 tentang pembangunan menara Babil, Kej 6-9, I Sam 17:38-40.

 4. Modernisasi: Ancaman atau Berkat Bagi Keluarga?

Jawabnya tentu… tergantung! Tergantung bagaimana kita menggunakan dan bersikap terhadap seluk beluk modernisasi. Maka modernisasi dapat menjadi berkat tetapi juga dapat menjadi ancaman bagi keluarga.

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan:

  1. Modernisasi berarti proses menuju masa kini atau proses menuju masyarakat modern, atau perubahan dari masyarakat tradisional menuju masyarakat yang modern.
  2. Modernisasi ditandai dengan pemakaian alat-alat modern, termasuk transportasi.
  3. Modernisasi dapat menjadi berkat tetapi juga dapat menjadi ancaman bagi keluarga.

MENGHINDARI PENGARUH NEGATIF MODERNISASI

  1. Mengapa kita harus menghindari pengaruh negatif modernisasi ?

Sepintas pertanyaan ini tidak mutu dan tidak perlu dijawab. Namun sesungguhnya pertanyaan ini perlu dijawab! Ya, mengapa kita harus menghindari pengaruh negatif modernisasi?

  1. Dapat merusak mental anak-anak bangsa.

Tidak dapat dibayangkan jika mental generasi penerus bangsa rusak, apa yang akan terjadi dengan bangsa ini? Misalnya: Dengan maraknya dan murahnya akses internet baik di warnet, bahkan di HP Blackberry dan HP merk lain, maka remaja dengan mudah membuka situs porno atau main game online yang menghabiskan waktu belajar. Akibatnya di sekolah ngantuk, tidur, tidak konsentrasi belajar, tidak masuk sekolah, ketinggalan pelajaran dan akhirnya putus sekolah. Remaja makin tidak disiplin dengan aturan-aturan sekolah yang ada. Terlambat sampai sekolah, bolos pada jam-jam tertentu, mengaktifkan HP saat pelajaran dan sebagainya.

  1. Muncul masalah-masalah dalam rumah tangga/keluarga.

Keluarga adalah unit yang terkecil dalam masyarakat yang dari padanya-lah terbentuk masyarakat. Jika keluarga utuh, tenteram dan sejahtera maka masyarakatpun akan damai sejahtera. Sebaliknya jika keluarga tidak harmonis maka kehidupan sosial masyarakat juga akan terganggu.

  1. Menimbulkan masalah masyarakat, bangsa dan Negara.

Betapa tidak? Akibat hidup hedonis, materialistis, dan konsumtif, banyak orang termasuk remaja dan orang dewasa/orang tua terjebak dalam perilaku yang tidak etis. Misalnya: pelecehan seksual, perjinahan, mengkon-sumsi narkoba, korupsi dan sebagainya, sehingga pada gilirannya menim-bulkan masalah pada masyarakat, bangsa dan Negara.

Kita hidup pada era modernisasi dan bahkan era globalisasi. Hal itu tidak dapat kita hindari dan mau tidak mau kita harus menjalaninya. Kitapun menyadari bahwa era modernisasi juga globalisasi berpengaruh baik positif maupun negatif. Suatu hal yang positif pasti kita terima dengan senang hati dan syukur. Tetapi pengaruh negatif yang pasti ada harus kita sikapi dengan benar dan tepat sesuai dengan iman dan nilai-nilai yang kita pegang.

Pengaruh negatif dapat disebut antara lain:

  1. Bisa terjadi kegagalan studi, karena waktu tersita untuk ber-Facebook ria, Twitter, game online, menonton TV, jalan-jalan ke mall, bermain play station.
  2. Bagi para ayah mengejar karir dan uang sehingga mengurangi waktu berkumpul dengan keluarganya sehingga dapat berakibat renggangnya hubungan dengan anggota keluarga, kurang komunikasi dan akhirnya satu dengan yang lain kurang memperhatikan dan kurang peduli.
  3. Para ibu yang kebetulan sebagai wanita karir menjadi kurang waktu dan perhatian kepada anak-anaknya meskipun sudah diganti dengan baby sitter ataupun pembantu yang cukup.
  4. Perselingkuhan juga makin marak, lunturnya nilai-nilai gotong royong, budaya menghormati orang tua, budaya ceplas ceplos tanpa melihat lingkungan dan sebagainya.
  5. Bagaimana sikap keluarga/remaja menghindari pengaruh negatif terhadap pengaruh modernisasi/globalisasi itu, agar keluarga tetap utuh, harmonis, tenteram, bahagia dan dapat menjadi berkat bagi sesama serta kemuliaan Tuhan ?

Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat, yang umumnya terdiri dari ayah, ibu, anak atau anak-anak. Keluarga yang demikian disebut keluarga inti. Keluarga inilah yang memiliki tanggungjawab untuk membentengi pengaruh arus modernisasi yang mengancam keluarganya terutama anak-anak remajanya. Sesungguhnya banyak hal yang dapat dilakukan orang tua antara lain:

  1. Masing-masing anggota keluarga melakukan tugas dan fungsinya dengan Seorang ayah mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Kebutuhan keluarga itu tidak hanya fisik, tetapi juga spiritual, rohani, psikis. Oleh karena itu ayah sedapat mungkin memenuhi semua kebutuhan itu, agar anggota keluarga merasa nyaman, krasan dan terlindungi. Istri juga membutuhkan perhatian, cinta, perlindungan suami, maka suami sebaiknya berusaha memenuhi dan menyayangi istri (Kol 3:19). Suami juga membutuhkan cinta, perhatian dari istri, maka istri seharusnya memenuhi kewa-jibannya sebagai istri (Kol 3:18). Pasangan suami istri sebagai orang tua berkewajiban mendidik anak-anaknya dengan kasih, sebagai perwujudan tanggungjawabnya kepada Allah (Ef 6:4, Kol 3:21). Anak-anak harus menghormati orang tuanya karena orang tua adalah wakil Allah yang dihadirkan untuk mendidik, merawat, memelihara anak-anak (Kol 3:20, Ef 6:2-3, Kel 20:12, Ul 5:16).
  2. Mengintensifkan komunikasi.

Di era modern ini setiap anggota keluarga memiliki kegiatan di luar rumah yang menyita waktu. Misalnya ayah atau ibu bekerja di luar kota sehingga bertemu kembali sudah sore atau malah malam. Anak-anak sibuk dengan tugas-tugas sekolah beserta les mata pelajaran maupun olah raga, dan ekstra kurikuler. Semua anggota keluarga bertemu kembali dalam waktu yang lebih singkat dan dalam keadaan lelah. Maka komunikasi perlu diintensifkan antara suami dan istri, orang tua dan anak-anak. Dengan komunikasi yang terjalin akan mengurangi atau bahkan meniadakan salah paham dan kecurigaan yang tidak perlu.

3.Mengintensifkan relasi/ hubungan dengan Tuhan.

Orang tua memfasilitasi kebaktian/ibadah keluarga. Mengingat era modernisasi yang antara lain ditandai dengan mobilitas tinggi maka kebaktian keluarga bisa diadakan pada pagi hari sebelum semua anggota keluarga berangkat melaku-kan tugasnya. Hal ini dilakukan oleh sebuah keluarga Kristen di Jakarta yang semua sibuk dan baru bisa berkumpul sekitar jam 21.00. Maka mereka bersepakat membangun ibadah pagi jam 05.00 dan ternyata cara ini intensif. Kebaktian keluarga sangat bermanfaat, selain mengingat kebaikan Tuhan dan bersyukur, juga wahana untuk mendidik anggota keluarga untuk takut akan Tuhan dan mempererat persaudaraan antar anggota keluarga (Ul 6:4-9). Dalam ibadah ini sekaligus dapat memperkenalkan, meningkatkan dan mengingat kembali nilai-nilai dan norma-norma kristiani mana yang harus dilakukan sebagai dasar perilaku

4. Terbuka terhadap modernisasi tetapi tetap kritis dan memilih yang sesuai dengan peruntukannya sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara etis.

Dari keterangan di atas, dapat kita simpulkan:

  1. Kita harus menghindari pengaruh negatif dari dampak modrnisasi, karena bisa saja timbul anak-anak nakal yang cenderung tidak mau diberi pengarahan dari orang tua.
  2. Setiap anggota keluarga harus melakukan sesuatu sesuai dengan fungsinya masing-masing.
  3. Komunikasi antar anggota keluarga harus dibangun secara intensif dan harus saling berpengertian.
  4. Di dalam mengintensifkan komunikasi antar anggota keluarga, dapat memanfaatkan media antara lain: kebaktian keluarga.

MANFAAT MODERNISASI BAGI KELUARGA

 1.Modernisasi dalam Alkitab dan contohnya

Apakah modernisasi hanya ada pada zaman sekarang saja? Ternyata tidak! Modernisasi yang ditandai dengan mengedepankan rasionalitas dan majunya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi telah ada pada jaman Alkitab.

Contoh-contoh dapat disebut misalnya:

  1. Bahtera Nuh (Kej 6:14-16).

Nuh diperintahkan Tuhan untuk membuat bahtera dengan ketentuan:  bahtera dibuat dari kayu gofir, bahtera dibuat berpetak-petak dan ditutup dengan pakal luar dan dalam, panjang bahtera 300 hasta, lebar 50 hasta dan tinggi 30 hasta, atap 1 hasta dari atas, pintu dipasang pada lambungnya, bahtera bertingkat dari bawah, tengah dan atas.

  1. Menara Babel (Kej 11:1-9).

Cerita menara Babil ini cukup terkenal dan sering dipakai sebagai penunjuk adanya kesombongan manusia yang akan melawan Allah. Tetapi lepas dari itu sesungguhnya pembangunan menara Babil ingin menunjukkan bahwa saat itu masyarakat sudah maju pengetahuan dan teknologinya. Di samping itu menara saat itu adalah simbol kemajuan suatu bangsa.

2. Salomo mendirikan Bait Suci/Rumah Tuhan (I Rj 6).

Menyimak kisah pembangunan Bait Suci oleh Salomo ini menunjukkan juga betapa hebatnya pengetahuan dan teknologi masyarakat waktu itu. Pembangunan Bait Suci sebagai simbol hadirnya Allah ditengah bangsa Israel. Maka dalam I Rj 6:11- 13 Allah berfirman: “Mengenai rumah yang sedang kaudirikan ini, jika engkau hidup menurut segala ketetapanKu dan melakukan segala peraturanKu dan tetap mengikuti segala perintahKu dan tidak menyimpang daripadanya, maka Aku akan menepati janjiKu kepadamu yang telah Kufirmankan kepada Daud, ayahmu, yakni bahwa Aku akan diam di tengah-tengah orang Israel dan tidak hendak meninggal-kan umatKu Israel”.

3. Gaya hidup Tuhan Yesus.

Gaya hidup Tuhan Yesus cukup modern karena mengedepankan rasionalitas, cerdas, memakai segala sesuatu secara sederhana. Hidup Tuhan Yesus ditandai dengan segala sesuatu dilakukan dengan efisien dan efekstif, untuk mencapai perbaikan, kemajuan dan keselamatan.

Dari keempat contoh itu nampak meskipun mereka hidup pada zaman Alkitab tetapi toh mereka sudah mengenal dan dapat melakukan pekerjaan yang dapat dikerjakan oleh orang-orang jaman modern ini secara tepat guna, efisien dan efektif. Misalnya: bahtera yang dibuat Nuh adalah bentuk bangunan yang fungsional. Demikian juga pembangunan menara Babil, inipun sudah menggunakan teknologi tingkat tinggi dengan berpikir cukup maju pada jamannya. Suatu hal yang tak kalah penting adalah pembangunan Bait Allah yang dibuat sedemikian rupa untuk menggambarkan kehadiran Allah. Pasti memperhitungkan banyak hal secara rasioanal, efisien, efektif dan berguna untuk jangka waktu yang lama.

Gaya hidup dan cara berpikir Tuhan Yesus juga tergolong modern. Sangat maju dibanding cara berpikir orang sejamannya. Tuhan Yesus berpikir modern dan komprehensif. Kehidupan fisik diperhatikan, dengan menyembuhkan dan memperbaiki kehidupan fisik. Kehidupan sosial yang buruk diperbaiki. Mentalitas tradisional yang kaku dan sepi kasih dirombak, menuju mentalitas baru yang lebih konstruktif. Dampaknya kita rasakan sampai sekarang.

  1. Manfaat modernisasi bagi masyarakat

Siapapun pasti setuju bahwa modernisasi sangat bermanfaat bagi manusia. Kitapun merasakan bagaimana proses modernisasi yang ditandai dengan gaya hidup modern dilakukan sesuai tuntutan jaman. Lalu apakah yang merupakan tuntutan zaman modern itu? Di antaranya adalah hidup dengan menghargai waktu, terbuka terhadap perkembangan dan kemajuan, terus menerus belajar karena dunia terus menerus berkembang.

Ada banyak bentuk gaya hidup modern, di antaranya dan yang dilakukan oleh remaja adalah:

  1. Penampilan dan segala yang dipakai selalu diusahakan “up to date” dan mutakhir, misalnya: alat transportasi, model rambut, mode pakaian, asesoris, dan sebagainya.
  2. Mengisi/menghabiskan waktu untuk tujuan yang jelas.
  3. Gaya hidup instant yang maunya serba cepat.
  4. Gaya hidup teknologi komunikasi yang mutakhir, misalnya pemakaian komputer beserta internetnya, DVD, MP3, HP dengan berbagai fasilitasnya, game online dan sebagainya.

Secara sederhana gaya hidup modern seringkali berdampak pada timbulnya  konsumerisme, materialisme dan hedonisme. Namun kita harus tahu hakekat modernisasi lebih dari itu. Segala perubahan yang terjadi dalam masyarakat selalu berdampak positif dan negatif. Ada manfaat dan ada kerugiannya.

Manfaat gaya hidup modern yang diakibatkan oleh modernisasi dapat disebut:

  1. Penggunaan alat komunikasi pada saat ini misalnya HP, chatting, facebook, twitter, email, fax dapat memperlancar komunikasi tanpa memandang jarak dan waktu. Tentu alat komunikasi tersebut akan terus berkembang dalam waktu relatif singkat.
  2. Menumbuhkan rasa percaya diri.
  3. Menambah pengetahuan, misalnya dengan memanfaatkan komputer dengan segala fungsi  dan fasilitasnya.
  4. Memotivasi diri dan orang lain untuk berkembang kearah yang lebih baik, misalnya pemakaian alat-alat modern di rumah tangga akan memudahkan efisiensi pekerjaan.
  5. Merangsang diri untuk mandiri, bekerja keras dan kritis terhadap apa yang terjadi di sekitarnya karena ada fasilitas modern.

 

Modernisasi sangat berguna bagi pengembangan Ilmu Pengetahuan dan teknologi, sangat berguna bagi pengembangan bidang pendidikan, otomotif, transportasi, kesehatan, hankam, agama, seni, percetakan, komunikasi, ekonomi dan kebudayaan.

  1. Manfaat modernisasi bagi keluarga

Manfaat modernisasi bagi keluarga antra lain:

  1. Memudahkan pekerjaan rumah tangga: kompor gas, mesin cuci, magic com, juicer, blender, hitter, dispenser dan sebaginya.
  2. Preservasi: bahan makanan, minuman.
  3. Pengembangan alat-alat kesehatan dan obat-obatan.
  4. Memberi peluang bagi perempuan untuk berkarir. Modernisasi memuncul-kan pemimpin-pemimpin wanita/wanita karir di berbagai bidang kehidupan. Dengan demikian martabat wanita terangkat

 

 

4. Manfaat Modernisasi Bagi Agama Kristen.

Dengan berkembangnya alat-alat telekomunikasi terutama penggabungan beberapa teknologi informasi yaitu komputer, telepon dan televisi memberi peluang Pekabaran Injil. Misalnya siaran TV di RCTI (Go Studio Nasional). Banyak orang melihat, mendengar, berpikir dan akhirnya percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Juruselamat. Demikian juga banyak orang terlibat misalnya Paduan Suara/pemain musik, penterjemah dan sebgainya.

Arus budaya global yang diakibatkan dari proses modernisasi juga masuk kedalam Gereja. Musik dan tarian lewat kaset, MP3, video. Hal ini menambah semangat dan gairah orang Kristen dalam beribadah.

Peran perempuan mendapat tempat sangat luas. Munculah pemimpin-pemimpin Kristen wanita dan wanita karir. Martabat wanita terangkat tinggi. Dan ini juga menguntungkan Gereja karena jumlah wanita dalam gereja lebih banyak dari jumlah pria. Sehingga secara kuantitas Gereja diuntungkan.

Ditengarai ada kebangkitan agama-agama/spiritualitas. Hal ini nampak dengan merebaknya persekutuan-persekutuan atau kebaktian di kantor-kantor/hotel-hotel, rumah-rumah makan karena menganggap gereja tidak mampu mengisi kekosongan batin warganya.

Modernisasi yang sarat dengan informasi tinggi pada akhirnya memberi peluang bagi individu-individu dari pada lembaga formal untuk menjalankan amanat Tuhan Yesus.

Meski modernisasi bermanfaat dalam pengembangan agama namun perlu diwaspadai berbagai hal antara lain:

  1. Dengan semangat dan emosi yang meluap, apakah dibarengi dengan pertumbuhan menuju kedewasaan rohani serta pembaharuan moral hidup kristiani? (Bacalah kitab Amos dan Mikha yang sarat dengan nuansa moral).
  2. Apakah semangat/gairah praise and worship bertumbuh hanya sebagai pelipur lara dan pemuasan emosional saja? Ingatlah bahwa iman bertumbuh dan menjadi kuat oleh pemahaman Firman Allah. (Rm 10:17, I Pet 2:2, Yoh 17:17).
  3. Peluang munculnya pemimpin wanita/wanita karir perlu mengingat dan tidak melupakan fungsi dan kedudukan sebagai istri dan ibu rumah tangga. Artinya perlu membatasi waktu kerja dan karir. Demikian juga kemitraan/partnership antara suami dan sitri harus tetap dipelihara Ingat Kej 2:18.
  4. Dengan merebaknya persekutuan dan spiritualitas, perlu dikaji secara teologis. Yang berkembang dan tidak berkembang, keduanya belum tentu benar dan tidak benar. Perhatikan I Rj 18:16-19. Di samping itu gereja-gereja yang mapan/tradisional harus menyadari kekurangannya dalam melayani kebutuhan warganya akan nilai-nilai rohani yang lebih dalam.

 

PERUBAHAN PERAN LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN DALAM KELUARGA

 1. Laki-Laki dan perempuan menurut Alkitab

1.1 Manusia Laki-laki dan Perempuan

Firman Tuhan yang tercatat dalam Kej 1:27 demikian: “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka”.

Dalam Firman tersebut dikatakan bahwa laki-laki dan perempuan sekaligus diciptakan bersamaan.  Maksudnya adalah tidak ada bedanya secara prinsip mengenai derajat dan martabatnya. Dalam Kej 2:4b-25 dinyatakan, bahwa proses penciptaan manusia laki-laki dan kemudian perempuan, ingin menyatakan bahwa ada kebersamaan antara laki-laki dan perempuan secara azasi.  Persekutuan tersebut menjadikan manusia sungguh-sungguh manusia atau benar-benar manusia. Dalam bahasa Perjanjian Lama (Ibrani), laki-laki adalah: “iychdan perempuan adalah: “iycha”. Istilah itu menunjukkan, bahwa perem-puan itu adalah bagian dari laki-laki. Oleh sebab itu laki-laki karena kodrati selalu terpanggil untuk menjadi: laki-laki dan bapa. Sebaliknya perempuan terpanggil sebagai perempuan dan sebagai ibu.  Namun harus diingat, bahwa Tuhan Allah menciptakan laki-laki dan perempuan itu setingkat atau sejajar dan tidak diskriminatif. Justru dengan perbedaan jenis kelamin itu, manusia bisa saling menolong, saling melengkapi untuk menjadi manusia sejati.

Manusia (laki-laki dan perempuan) yang diciptakan menurut Citra Allah secara eksistensial untuk menghindarkan kesepian atau kesunyian, sehingga terdapat kerja sama.  Dalam pada itu keberadaan laki-laki dan perempuan itu menjelaskan, bahwa: “aku untukmu” dan sekaligus “engkau untukku”.  Itulah sebabnya sebagai arti “penolong” (dalam bahasa Ibrani: ezrah, azar, ay’zer) diterjemahkan dalam bahasa Inggris: “helper suitable for him”, dalam bahasa Indonesia: memihak, cocok. Demikian juga terjemahan dengan tepat dalam bahasa Latin: “partnerim” (kata dasar dari istilah: partim yang berarti sebagian atau partior yang berarti: menjadi bagian, atau bagian dari)[15]  Penolong yang sepadan itu berkaitan erat dengan “emansipatio” (dalam bahasa latin berarti: pembebasan resmi dari seorang pitera lepas dari kekuasaan bapanya)[16] atau dapat dikatakan sebagai: sederajad, setara, sepadan dan sejodoh).  Istilah “sejodoh” dalam bahasa Ibrani adalah: neged yang berarti: imbangan, di muka, bertatap muka, di samping. Hal itu berarti, perempuan tidak pernah dijadikan atau dianggap sebagai teman di belakang, atau bahkan orang kedua. Bahkan dalam Alkitab, Tuhan juga seringkali disebut sebagai penolong manusia. Jadi, perempuan bukan seorang yang diturunkan dari laki-laki atau reduplikasi (ulangan), bukan asimetris tetapi simetris. Justru saling memerlukan itulah, maka laki-laki dan perempuan menjadi satu, seperti yang disaksikan dalam Kejadian 2:23a, Adam mengaku kepada Hawa: “Inilah tulang dari tulangku dan daging dari dagingku”.[17]

  1. Eksistensi laki-laki dan perempuan

Suatu kenyataan yang tidak dapat diragukan dalam diri manusia adalah: di samping aku, terdapat orang lain. Kesadaran tentang orang lain ini berdasarkan cinta kasih yang berpraktek dalam hidup sehari-hari yang berakar dari eksistensi manusia sebagai makhluk yang “monodualis” (manusia makhluk pribadi sekaligus makhluk sosial). Hubungan antara aku dengan orang lain adalah antara subjek dengan subjek. Ini berarti hubungan yang sederajad. Orang lain berada di hadapan dan di samping atau hidup dalam kebersamaan.  Oleh sebab itu, orang lain ikut menentukan manusia sebagai manusia.  Kenyataan manusia dalam perjumpaan dengan sesama seperti inilah yang oleh Martin Heidegger (seorang filsof dari Jerman) disebut sebagai: “Das sein ist mit-sein” (keberadaan bersama atau dalam perjumpaan).  Keberadaan bersama ini terjalin di dalam struktur eksistensi manusia yang memungkinkan bersatu dalam alam yang ada atau kejasmanian, bahkan ada bersama dengan cinta kasih (das lieben des mit-sein). Jadi, orang lain adalah kodrat bersama dengan aku dalam perjumpaan antara sobjek dengan sobjek, sehingga sepanjang hidup manusia membutuhkan orang lain sesuai dengan sifat kodrat manusia sebagai makhluk monodualis. Apabila tanpa orang lain, maka timbul kekalutan dan kesepian yang mutlak. Itulah sebabnya, secara eksistensial manusia itu benar-benar bersifat sosial, yang membutuhkan persekutuan dan  kebersamaan dengan sesamanya atau dalam masyarakatnya.[18]

Apabila kita mengamati manusia dalam eksistensinya, maka nampak manusia tidak terpisah dari segala sesuatu. Manusia bukan barang yang terpisah (monade) tanpa hubungan dengan apapun juga. Setiap kali manusia menganali-sa dan sadar akan dirinya atau “aku”-nya, maka nampak serba berhubungan. Oleh sebab itu, dalam mengakui eksistensinya sendiri, manusia juga mengakui eksistensi orang lain. Dari sinilah timbul perjumpaan atau pertemuan antar “Aku” dengan “Engkau”, kemudian “Aku” dengan “Engkau” segera berubah men-jadi “Kita”.  Perjumpaan ini dipandang sebagai hubungan etis dan wajib ber-dasarkan cinta kasih, berada bersama dalam saling penuh hormat. Orang lain yang wajahnya muncul di hadapanku adalah suatu kejadian yang asli dan menjadikan arti yang baru, yang memohon untuk diterima. Hal ini memang sangat unik, sehingga orang lain tidak lagi menjadi asing bagiku. Inilah tang-gung jawab etis. Sebagai konsekuensinya adalah: apa-bila “Aku” mendekati orang lain, maka “Aku” berdasarkan wajib, menerima orang lain itu. Orang lain tidak boleh didekati dengan tujuan agar orang lain tersebut melayani kita. Dalam pertemuan dengan orang lain itu, justru kita dapat bertemu juga dengan Yang Tak Terbatas. Yang Tak Terbatas itulah yang merangkumkan aku dengan sesamaku.[19]

Apabila dikaitkan dengan profesi, tentu hal ini tidak terlepas dari analisa perkembangan keadaan dinamika adanya pembagian kerja secara seksual tidak mengalami banyak perubahan. Baik tugas-tugas di bidang domestik atau di rumah tangga, maupun di bidang publik atau di luar rumah bisa dikerjakan baik oleh laki-laki maupun perempuan.  Inilah yang disebut dengan pembagian kerja berbasis jender yang tidak adil dan setara dan sudah mulai mengalami perubahan. Akibatnya baik posisi, person, kedudukan dan martabat laki-laki dan perempuan menjadi lebih manusiawi dan setara.

2.Perubahan peran laki-laki dan perempuan dalam keluarga

  1. Dasar Peran dan Profesi.

Firman Tuhan dalam Kej 1:26-27 demikian: ”Berfirmanlah Allah: ’Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi. Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka”.

Manusia diciptakan melalui ”tangan Tuhan”. Tuhan digambarkan sebagai ”tukang periuk atau tukang pahat”. Dari dasar itulah, maka keistimewaan penciptaan manusia adalah ”menurut gambar dan rupa Allah”. Istilah ”gambar” dalam bahasa Ibrani adalah: ”tselem” (Latin: imago, Inggris: image atau resem-blance, Indonesia: persamaan), berarti gambaran yang berwujud atau kelihatan. Sedangkan istilah “rupa” dalam bahasa Ibrani adalah: “demut” (dalam bahasa Inggris: similitude, similar), berarti keserupaan. Keserupaan menentukan ke-segambaran, artinya manusia adalah kesegambaran Allah yang keseluruhannya ditiru menurut aslinya, yakni Allah. Kedua istilah dalam bahasa Ibrani tersebut dapat dikatakan sebagai sinonim, maksudnya adalah: manusia benar-benar diciptakan serupa dengan Allah atau citra Allah. Keserupaan manusia dengan Allah tidak hanya keberadaannya saja, melainkan tujuannya, yakni: dalam tugas kemudian. Dalam ayat 28 demikian: “Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Sebagian dari sifat dan ”kemampuan ilahi”, yakni: secara rohani, intelektual dan etik-moral, juga dimiliki manusia. Kejadian 1:26 sendiri tidak dapat dipisahkan dengan ayat 27, bahkan ayat 28 yaitu berkaitan dengan tugas-tugas manusia yakni: Pertama, rancangan dan pelaksanaan penciptaan manusia menjadi persis, tidak bergeser, tidak berubah; Kedua, status manusia dalam hubungannya dengan Allah yakni: kesegsambaran dan keserupaan; Ketiga, jenis kelamin manusia, yakni laki-laki dan perempuan; Keempat, tugas manusia sebagai wakil Allah, sekaligus regenerasinya dengan didahului berkat. Demikian juga jenis kelamin manusia merupakan suatu kodrat alamiah, sebagai tanda yang baik, sehingga manusia dimungkinkan melaksanakan tugas (ayat 31) dan menjadi berkat dan karunia Allah bagi lingkungan.

  1. Perbedaan peran dan profesi

Setelah terjadi kejatuhan dosa, maka muncul polarisasi antara peran laki-laki dan perempuan. Polarisasi itu memunculkan pemahaman tentang: paternalisme, patriarkhi (dari bahasa Yunani: patriakh searti bapa atau laki-laki). Jadi patriarkhi berarti laki-laki yang berkuasa dalam rumah tangga, mendominasi istri dan anak-anaknya. Keadaan ini merembes di bidang publik. Juga ada istilah patriarkhat yang berarti garis keturunan mengikuti bapa. Sebaliknya: maternalisme, matriarkhat (keyakinan bahwa perempuan yang menjadi pusat dan garis keturunan). Namun demikian lama kelamaan Patrialisme yang menjadi dominan.

Pada umumnya dalam masyarakat dengan sistem dan struktur patriarkhi, maka perempuan mendapat tempat nomor dua/subordinasi sesudah laki-laki.  Seringkali dalam pembagian tugas ada pembagian tugas secara seksual, perempuan menangani hal-hal aras domestik yakni: memasak, mengurusi dapur melayani laki-laki dan sebagainya.  Sebagai contoh: pada dekade abad yang lalu di Jawa, perlakuan terhadap perempuan ditempatkan di belakang (sebagai teman di belakang, dalam bahasa bahasa Jawa disebut: kanca wingking).  Dalam peran (pekerjaan) pandangan yang berakar dari patriarkhi tampak perempuan didiskriminasi.  Pekerjaan perempuan dianggap rendah, sebagai ”sambilan” dalam struktur rumah tangga. Itulah sebabnya perempuan tidak diberi kesempatan untuk mengambil keputusan. Dalam keluarga, anak-anak dibesarkan dalam pola asuh yang sudah diterima umum yang bias jender, misalnya: dalam mainan anak perempuan adalah ”pasaran’ (bermain seperti di pasar yakni berbelanja dan ada yang menjual barang-barang, memasak dan sebagainya). Sedangkan mainan anak laki-laki adalah: layang-layang, gasing, perang-perangan dan sebagainya untuk menjadi pemenang di bidang publik.  Sikap jantan ditekankan pada anak laki-laki.

Sekarang ini ada kemajuan untuk memperjuangkan penyetaraan jender dan peranan laki-laki dan perempuan.  Untuk membicarakan hal itu harus kembali kepada apa yang dikatakan Alkitab, seperti yang diterangkan di atas. Tuhan Yesus telah menempatkan perempuan bukan di posisi baru, tetapi yang semestinya yakni berdampingan dengan pria sebagai teman sepadan.[20]  Misalnya dalam perubahan radikal pernikahan dari poligami menjadi monogami. Memang selama ini tradisi dalam masyarakat dan gereja berakar dari tradisi Yahudi yang patriarkhi, yang memberi kesempatan kepada perempuan untuk melayani, namun demikian masih terkurung dan terjajah oleh laki-laki, karena mitos-mitos yang merugikan perempuan.  Itulah sebabnya, perjuangan kaum perempuan bukan melawan laki-laki tetapi untuk melepaskan diri dari mitos tersebut.  Di pihak lain kaum pria juga harus melepaskan diri dari mitos yang sama yang membelenggu juga.[21] Karena laki-laki dikondisikan oleh budaya menjadi manusia yang tidak etis.

Perempuan memang diciptakan dalam kodrat yang berbeda dari laki-laki tetapi bukan untuk direndahkan dan didiskriminasikan. Tidakkah manusia Adam dan Hawa ditempatkan Tuhan di sebuah taman (Kej 2:15). Maksud ditempatkan di taman Eden itu agar manusia dapat menikmati keharmonisan, kedamaian dan kesejahteraan. Perempuan dan laki-laki diciptakan untuk meneruskan keseimbangan harmoni tersebut. Justru dalam Kej 2:15 tugas laki-laki dan perempuan sama. Kodrat perempuan yang perasa dan sabar menanggung derita dapat memudahkan perempuan untuk menghayati penderitaan sesama dan kesengsaraan Kristus dalam solidaritas-Nya dengan manusia.

Memang harus diakui, bahwa perjuangan perempuan sampai sekarang baru dalam tahap membebaskan diri dari belenggu mitos tersebut dan mengenal jati dirinya. Namun pasti akan berlanjut dalam pengembangan diri dalam peranannya. Perjuangan itu memang bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk mengungkapkan citra Allah yang ada dalam dirinya dan mewujudkan tebusan Kristus dan pembaharuan Roh Kudus atas hidupnya.[22] Baik laki-laki maupun perempuan perlu bersama-sama berjuang untuk membebaskan diri dari mitos peran jender yang menindas kemanusiaan. Laki-laki perlu menjadi manusia yang lebih etis, tidak menindas ciptaan Allah yang lain yaitu perempuan.  Perempuan juga harus berjuang agar dirinya dapat menjadi manusia yang utuh, setara dengan laki-laki dan dapat beraktualisasi diri, membebaskan diri dari belenggu ”peran jender” yang menindas.

Dari keterangan yang telah diungkap, dapat disimpulkan:

  1. Remaja Kristen harus tahu bagaimana menempatkan diri sesuai dengan Firman Tuhan tentang peran laki-laki dan perempuan yang setara sebagai Citra Allah.
  2. Laki-laki dan perempuan mempunyai derajad dan martabat yang sama di hadapan Tuhan dan harus diingat identitasnya dalam masyarakat sebagai wujud-nyata citra Allah.

Lihatlah di belakang kita, bukankah sudah banyak terjadi perubahan?  Dahulu secara klasik perempuan hanya mengurus rumah tangga (dunia domestik), tetapi pada saat ini banyak perempuan yang mencari nafkah (di bidang politik?).  Akibatnya keluarga menjadi lebih sejahtera.  Oleh sebab itu sudah saatnya laki-laki juga berperan di bidang domestik (di rumah). Sudahkan Anda para remaja siap menghadapi perubahan sosial ini?

KELUARGA MENJADI BERKAT BAGI JEMAAT

 1.Keluarga dan Gereja

 Keutuhan keluarga sebagai miniatur Gereja

Keluarga adalah suatu persekutuan yang merupakan satu unit terdiri dari suami, isteri dan anak-anak, atau dapat dikatakan bapak, ibu dan anak.  Keterangan itu memang betul, namun persekutuan itu terlembaga secara jelas, artinya sebagai “lembaga” sosial yang disahkan oleh hukum atau undang-undang sebagai Peraturan Pemerintah yang berlaku, yakni: Undang-undang Perkawinan Nomor: 1 tahun 1974.

Tuhan Allah menginginkan sebuah keluarga dan menciptakan remaja untuk menjadi bagian di dalamnya. Tuhan Allah merencanakan hal itu sebelum remaja dilahirkan.  Firman Tuhan mengatakan: ”Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah” (Ef 2:19). Apabila kita menempatkan diri dalam iman kepada Tuhan Yesus, maka kita menjadi ”anak-anak Allah” karena Tuhan Yesus seperti dalam Firman Tuhan demikian; “Lihatlah betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah, ..” (1 Tim 3:1a).  Dengan demikian orang-orang lain yang beriman kepada Kristus menjadi ”saudara-saudara” kita seiman yang akhirnya menjadi keluarga besar Kerajaan Allah. Itu semua berpusat dan berdasarkan kasih Tuhan Allah dan memang Tuhan Allah adalah kasih (1 Yoh 4:8, 16). Demikian juga Firman ini: “…, sudahlah engkau tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah, …” (1 Tim 3:15b).

Pada perumpamaan yang tentang ”anak hilang” yang terdapat di Injil Luk 15:11-32, berarti keutuhan keluarga menjadi terganggu. Itulah sebabnya seorang Bapa dalam cerita ini selalu mengharapkan anaknya yang hilang akan kembali sehingga keluarga kembali utuh.

Kasih dengan pengertian yang dalam dan baik dapat menjadikan seseorang memiliki sifat dan sikap tenggang rasa di antara semua anggota keluarga.  Kasih juga menghormati perbedaan. Memang betul, bahwa dalam keluarga yang digambarkan sebagai satu tubuh banyak anggota. Namun demikian dapat disatukan sebagaimana Firman Tuhan mengatakan: ”Dan di atas semua itu: kenakanlah kasih. Sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan” (Kol 3:14).

Dalam mempersiapkan keluarga yang utuh, maka harus diperhatikan dan diterapkan: disiplin mental-spiritual, saling menjaga diri di antara anggora keluarga.  Bagi remaja harus terjadi komunikasi yang baik dan lancar dengan orang tua serta anggota keluarga lainnya. Keutuhan keluarga sangat penting dalam hidup orang kristen. Untuk itu harus ada sikap yang sama untuk mempertahankan keutuhan keluarga. Keluarga Kristen merupakan ”tubuh Kristus”, walaupun ada banyak anggota tetapi satu tubuh (bandingkan: 1 Kor 10:17). Firman Tuhan yang harus diperhatikan oleh setiap remaja Kristen terdapat di 1 Kor 1:10 yang mengatakan bahwa harus sehati sepikir. Itu berarti remaja berfungsi sebagai menjaga dan melestarikan keutuhan keluarga. Dalam keluarga Kristen remaja bisa berkembang, bertambah bebas dalam suasana yang aman, kondusif dan penuh dengan kasih.

Dalam rangka mempertahankan keutuhan keluarga, sebaiknya diadakan ”kebak-tian dan rapat keluarga”. Sedangkan dalam penyelenggaraannya harus memprioritaskan waktu untuk melibatkan Tuhan dalam kebaktian keluarga.  Adapun keuntungan diadakan ”kebaktian keluarga” antara lain:

  • Keluarga adalah gereja kecil dalam praktek.
  • Ada kesempatan untuk saling berkomunikasi, saling mendengarkan dan mendoakan.
  • Ada tujuan khusus untuk keutuhan keluarga.

Demikian juga dalam penyelenggaraan ”rapat keluarga” ada keuntungannya antara lain:

  • Untuk memecahkan masalah keluarga agar tetap utuh. Semua pendapat diterima dan didengarkan.
  • Ada kesempatan untuk saling mendengarkan pendapat dan perasaan anggota keluarga yang lain.
  • Ada kesempatan untuk belajar tidak memotong pembicaraan orang lain, menghargai dan memahami anggota keluarga.
  • Belajar memecahkan masalah keluarga agar tetap utuh sesuai dengan prinsip-prinsip Kristiani.

Untuk melakukan kebaktian keluarga, jadilah Anda sebagai pelopor.  Usahakan keluarga dapat mengkhususkan waktu untuk kebaktian keluarga pagi atau malam hari. Tujuannya untuk mendengar firman Tuhan secara rutin atau kebiasaan.  Waktunya cukup 5-10 menit. Sedang untuk rapat keluarga, dapat dilakukan tergantung kepada masalah yang ada, yang harus dipecahkan bersama-sama secara Kristiani.

2.Keluarga menjadi berkat bagi jemat

  1. Hubungan antara keluarga dengan program gereja

Seperti yang telah dikemukakan di atas, maka keluarga Kristen merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan Gereja, demikian sebaliknya bahwa Gereja termasuk di dalamnya keluarga-keluarga Kristen yang berada di tengah masyarakat lingkungannya. Hubungan antara keluarga Kristen dan Gereja yang sangat erat itu menunjukkan bahwa keluarga Kristen dapat digambarkan sebagai “Gereja Mini”.  Hal itu berarti di dalam keluarga Kristen terdapat beberapa “mimbar” antara lain: mimbar ucapan syukur, mimbar doa, mimbar pujian, mimbar saling mengasihi, saling menerima dan mengakui satu dengan yang lain.  Dalam Perjanjian Baru, Gereja disebut dalam bahasa Yunani: ekklesia yang berarti kumpulan atau persekutuan orang-orang yang dipanggil keluar dari kegelapan di dalam terang Kristus, sesuai dengan Firman ini: “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang benar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib” (1 Pet 2:9, bandingkan dengan: Rm 1:6; 1 Pet 5:10).

Gereja Kristen yang terdiri dari keluarga-keluarga, dapat menentukan apakah Gereja tersebut sehat dan tidak, itu juga tergantung dari sehat atau tidaknya keluarga-keluarga. Keluarga yang tumbuh dalam Gereja berarti tumbuh di dalam Kristus, karena Kristuslah yang menjadi kepala Gereja dan Gereja menjadi tubuh-Nya. Keluarga-keluarga Kristen merupakan ”Gereja kecil” (Jemaat rumah tangga) yang disebut juga dengan: ekklesia. Unit-unit keluarga merupakan kompleks bangunan dasar ketika Tuhan merancang Gereja.  Itulah sebabnya Gereja terdiri dari banyak individu keluarga. Tuhan ber-maksud semua anggota Gereja berinteraksi secara harmoni satu sama lain sebagai keluarga tunggal yakni: keluarga Kerajaan Allah.

Dari penjelasan itu, maka program Gereja juga akan terlaksana dalam kegiatan keluarga secara kategorial (berdasarkan kategori, misalnya: kategori umur, kelompok): dalam hal doa bersama dan kebaktian keluarga.  Ikut serta dalam ambil bagian atau partisipasi sesuai dengan program gereja pada kegiatan Sekolah Minggu. Remaja dan pemuda, kaum ibu dan kaum bapak, lansia. Semua itu justru sebagai ”panggilan Gereja” terhadap keluarga Kristen.

DAFTAR PUSTAKA

 Belling, A.Willard dan Totten, George O. 1985. Modernisasi, Masalah Model Pembangunan, cet.ke-2, Jakarta: Rajawali.

Brotosudarmo, Drie. 2008. Pendidikan Etika Kristen Untuk Universitas. Yogyakarta: Andi.

Gunarsa, Singih D. dan Nyonya Gunarsa, Singgih D. Psikologi untuk Muda-Mudi. 1995.Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Poerwadarminta, W.J.S. 1986. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Prent, K (et.all). 1996. Kamus Latin – Indonesia. Yogyakarta: Kanisius.

Suleeman, Stephen dan Souk, Bendalina (ed). 1997. Berikanlah Aku Air Hidup Itu. Bahan Studi Gender. Jakarta: Persetia.

Susanto, Astrid S. 1985. Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sosial. Bandung: Bina Cipta.

Verkuyl, J., 1957. Etika Kristen Seksuil. Jakarta: Badan Penerbit Kristen.

[1]J.Verkuyl., Etika Kristen Seksuil, Jakarta: Badan Penerbit Kristen, 1957, 43.

[2] Singih D.Gunarsa dan Nyonya Singgih D.Gunarsa. Psikologi untuk Muda-mudi. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1995, 189-190.

[3] Ibid, 189, 196-197.

[4]W.J.S.Poerwadarminta., Kamus Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1986:1099.

[5]  A.Willard Belling dan George O Totten. Modernisasi, Masalah Model Pembangunan, cet.ke-2, Jakarta: Rajawali, 1985, 5.

[6]  W.J.S.Poerwadarminta., Kamus, 653.

[7]     K.Prent (et.all)., Kamus Latin – Indonesia, Yogyakarta: Kanisius, 1965, 41.

[8]     Ibid, 51.

[9]     Soerjono Soekanto. Sosiologi Suatu Pengantar, cet.ke-7.Jakarta:Rajawali, 1986, 309-312.

[10]    Astrid S.Susanto. Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sosial. Bandung: Bina Cipta, 1985, 160, 180.

[11]    J.W.Schoorl. Modernisasi, pengantar Sosiologi Pembangunan Negara-negara Sedang Berkembang. Jakarta: Gramedia, 1984, 20.

 

 

 

[12]    Niels Mulder. Kepribadian Jawa dan Pembangunan Nasional, cet.ke-5. Yogyakarta: Gajahmada University Press, 1988, 55-56.

[13]    J.W.Schoorl. Modernisasi, 1.

[14]    A.Willard Belling dan George O Totten. Modernisasi, Masalah Model Pembangunan, cet.ke-2. Jakarta: Rajawali, 1985, 8.

[15] K.Prent (et.all)., Kamus, 611.

[16]Ibid, 281.

[17] Drie Brotosudarmo., Pendidikan Etika Kristen Untuk Universitas, Yogyakarta: Andi, 2008:87.

[18]    Ibid, 93-93.

[19]    Ibid, 94.

[20]    Jedida T.Posumah-Santosa, dalam: Stephen Suleeman dan Bendalina Souk (ed)., Berikanlah Aku Air Hidup Itu. Bahan Studi Gender. Jakarta: Persetia, 1997:38.

[21]    Ibid, 38.

[22]    Ibid, 39.

Kebahagiaan yang Mulia

Tidak ada kepuasan yang sejati di dunia ini. Pernikahan, keluarga, uang, ketenaran, kebenaran, perjalanan, olahraga, bahkan prestasi akademis; semua itu tidak akan dapat memberi kebahagiaan yang sejati kepada kita. Kepuasan yang didapat dari segala jerih payah kita akan segera musnah dan hanya tinggal kenangan. Itu pun bila kita masih bisa mengingatnya.

Tentu ada berbagai peristiwa yang membahagiakan di sepanjang perjalanan hidup kita, juga saat-saat tak terduga yang membawa sukacita luar biasa. Namun masa-masa itu segera akan berlalu dan kita tak mungkin dapat mengulanginya lagi, apalagi merasakan kembali kepuasan yang sama.

Lalu mengapa kita terus-menerus mencari sesuatu yang dapat memberi kepuasan? Jawabannya tidaklah sulit, yakni karena kita membutuhkannya. Sebenarnya, entah disadari atau tidak, jiwa kita merindukan Allah. Ya, keinginan, aspirasi, dan kerinduan kita yang paling dalam tak lain adalah kerinduan kepada Allah. Kita dilahirkan untuk mendapatkan kasih-Nya karena tanpa kasih itu kita tak dapat hidup. Dialah kebahagiaan yang kita cari di sepanjang hidup ini. Segala sesuatu yang kita inginkan hanya dapat ditemukan di dalam Dia-bahkan mungkin lebih dari yang kita harapkan.

Haus

Nats : Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi (Mazmur 73:25)
Para pakar kesehatan menganjurkan kita untuk minum sedikitnya dua liter air setiap hari. Selain dapat mengurangi risiko serangan jantung, air juga menjadikan kulit kita sehat berkilau, dan membantu mengurangi berat badan. Bahkan kita harus minum lebih banyak air ketika berolahraga atau jika kita berada di suhu yang panas atau kering. Dan meskipun tidak haus, kita tetap harus minum air.

Kehausan kita akan Allah bahkan lebih bermanfaat lagi. Pada saat kita mengalami kekeringan rohani, kita akan rindu mendengar Dia melalui firman-Nya, dan kita akan mencari setetes pengetahuan akan Dia. Apabila kita melatih iman dengan cara baru, maka kita akan ingin menjadi dekat dengan-Nya dan menerima kekuatan-Nya. Kita akan menjadi semakin haus akan Allah apabila kita melihat dosa orang-orang yang ada di sekitar kita, atau ketika kita memperoleh kesadaran baru akan dosa kita sendiri dan memerlukan Dia.

Kehausan rohani adalah istilah yang dipakai di dalam Kitab Suci. Asaf haus akan jawaban dalam mazmur yang berisi pertanyaan. Ketika ia melihat kebahagiaan orang fasik, ia berseru kepada Allah untuk mengetahui alasannya (Mazmur 73:16). Ia mendapati Tuhan sebagai kekuatannya dan menyadari bahwa ia tidak mengingini apa pun selain Dia (ayat 25,26).

Apabila kita mengalami dahaga rohani, maka kita dapat mengikuti teladan Asaf dan mendekatkan diri kepada Allah (ayat 28). Dia akan memuaskan diri kita, dan membuat kita menjadi lebih haus akan Dia. Kita akan belajar untuk mengingini Dia lebih dari apa pun juga AMC

DAHAGA AKAN ALLAH HANYA DAPAT DIPUASKAN
OLEH KRISTUS SANG AIR KEHIDUPAN

 

Lapar

Nats : Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (Matius 4:4)
Berhentilah sejenak! Tunggu sebentar! Sudahkah Anda membaca bacaan Kitab Suci untuk hari ini? Hanya delapan ayat pendek yang dapat Anda selesaikan dalam waktu 45 detik.

Tolong, jangan letakkan buku renungan ini dan mengomeli saya, “Saya sedang terburu-buru dan Anda malah menahan saya.” Saya perhatikan Anda tetap sarapan pagi meski sudah terlambat. Anda menyediakan waktu untuk memberi makan tubuh Anda, tetapi Anda membiarkan jiwa Anda kelaparan. Ambillah waktu 45 detik saja untuk membaca Mazmur 119:33-40. Tidak menjadi masalah apabila Anda tidak melanjutkan bacaan dalam renungan ini, asalkan Anda membaca bacaan Alkitabnya.

Artikel-artikel dalam Renungan Harian tidak dirancang untuk menggantikan Alkitab, tetapi dimaksudkan untuk mendorong Anda agar lebih gemar membaca Alkitab. Jika membaca Renungan Harian justru membuat Anda menolak Firman Allah, lebih baik buang saja buku ini ke dalam tong sampah!

Ayub berkata, “Dalam sanubariku kusimpan ucapan mulut-Nya” (Ayub 23:12). Yesus mengajarkan, “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah” (Matius 4:4).

Benar, Anda telah menghadapi hari yang berat kemarin, dan Anda tak dapat mengubahnya lagi sekarang. Jika demikian halnya mengapa Anda harus terkejut bila mengalami hari yang buruk karena Anda tidak memulainya dengan Firman Allah? Jangan lakukan kesalahan yang sama hari ini. Ambillah waktu untuk membaca Firman Allah –MRD

JIKA ANDA MERASA TERLALU SIBUK UNTUK MEMBACA ALKITAB
ANDA AKAN BENAR-BENAR TIDAK DAPAT MENYEDIAKAN WAKTU UNTUK ITU

Jalan Bahagia

Nats : Yesus berdiri dan berseru: “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!” (Yohanes 7:37 Bila Anda haus akan sesuatu yang “lebih” dalam hidup ini, tanggapilah undangan Yesus untuk “datang kepada-Ku dan minum” (Yohanes 7:37). Datanglah kepada-Nya, minumlah anugerah dan pengampunan-Nya yang diberikan dengan cuma-Cuma, dan alamilah sukacita yang sejati-DHR

KEBAHAGIAAN BERGANTUNG PADA KEJADIAN YANG KITA ALAMI
SUKACITA BERGANTUNG PADAYESUS!

 

Volume 4 no 2

KOMUNIKASI ANTARPERSONA YANG EFEKTIF

BAGI PELAYANAN KRISTEN

Naomi Sri Tuminah
Sekolah Tinggi Teologia Jemaat Kristus Indonesia
Salatiga, Indonesia

ABSTRACT

In every christian ministry, we always need comunication interpersonal as a tool to reach the goal that is building human awareness about the need of salvation from God. How can we create an efective communication interpersonal in the ministry? How people can understand what other say and give feedback as what they wish. This article will try to answer these.  

Keywords:  communicatio, interpersona, pelayanan, PAK

 

PENDAHULUAN

Komunikasi dipahami sebagai “suatu proses dalam mana seseorang atau beberapa orang, kelompokorganisasi, dan masyarakat menciptakan, dan menggunakan informasi agar terhubung dengan lingkungan dan orang lain”[1]

Secara etimologi komunikasi berasal dari bahasa Latin “communicatio” yang berarti pemberitahuan, pemberian bagian, pertukaran, pergaulan, persatuan, peran serta, atau kerjasama.[2] Kata “communicatio” berasal dari kata dasar “communis” yang berarti “commmon” artinya yang bersifat umum, sama atau bersama-sama. Kata kerjanya “communicare” mengandung arti berdialog, berunding, bermusyawarah.[3] Maka komunikasi terjadi apabila terdapat kesamaan makna mengenai pesan yang disampaikan oleh komunikator dan yang diterima oleh komunikan.

Pada hakekatnya komunikasi adalah sebuah proses menyampaikan oleh komunikator kepada komunikannya. Rosmawati menuliskan: “proses pernyataan antara manusia, dimana yang dinyatakan itu adalah pikiran, perasaan seseorang kepada orang lain, dengan menggunakan bahasa sebagai alat penyalurnya”[4]

Komunikasi juga dipahami sebagai penyampaian informasi, ide, emosi, kemampuan dan lain-lain dengan menggunakan simbol-simbol kata, gambar, bilangan, grafik, dll.”  Secara singkat komunikasi didifinisikan sebagai “usaha penyampaian pesan antar manusia”[5]

Dari beberapa pengertian di atas terlihat beberapa manfaat  berkomunikasi diantaranya: dengan berkomunikasi seseorang akan memperoleh informasi, pengetahuan, dan pengalaman. Dengan berkomunikasi seseorang akan belajar untuk memahami orang lain. Komunikasi menciptakan hubungan baik  antar pribadi, kelompok, atau organisasi.

Komunikasi dilakukan untuk tujuan tertentu. Selain untuk bersosial ada tujuan-tujuan yang lebih spesifik yang ingin dicapai dalam berkomunikasi. Setidaknya ada empat tujuan komunikasi yaitu untuk mengubah sikap, mengupah pandangan/opini, mengubah perilaku, dan mengubah masyarakat.[6] Pencapaian tujuan dilakukan dengan berbagai bentuk dalam berkomunikasi. Oleh karenanya komunikasi diklasifikasikan berdasarkan bidang-bidang tertentu yang disesuaikan dengan tujuannya. Komunikasi memiliki tiga bentuk spesialis, yaitu: komunikasi persona, kelompok dan masa.

Komunikasi persona antara lain: komunikasi intrapersonal, komunikasi inter-personal, komunikasi dengan isyarat, dan komunikasi kerohanian. Komunikasi kelompok adalah ceramah, kuliah, rapat, dsb. Komunikasi masa adalah jurnalistik, PR, penerangan, propaganda, pameran, publikasi, dll. Dalam artikel ini penulis secara spesifik mendeskripsikan tentang komunikasi antarpersona yang efektif bagi pelayanan Kristen.

Komunikasi antarpersona merupakan bagian dari komunikasi persona dalam cabang ilmu komunikasi. Komunikasi antarpersona perlu dipahami dengan tepat untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi seseorang. Dalam bagian ini penulis akan menguraikan tentang komunikasi antar pribadi secara lengkap.

DEFINISI KOMUNIKASI ANTARPERSONA

Komunikasi antarpribadi disebut juga dengan instilah komunikasi (interpersonal communication). Komunikasi antarpribadi dipahami sebagai “komunikasi yang berlangsung di antara dua orang yang mempunyai hubungan yang mantap dan jelas.[7] Definisi ini terlalu sempit karena dibatasi dengan “hubungan yang mantap dan jelas”. Jika demikian maka komunikasi antar pribadi tidak dapat dilakukan oleh orang-orang yang tidak memiliki hubungan yang mantap. Padahal seringkali hubungan yang mantap dan jelas justru berawal dari komunikasi yang intensif.

Kamus Komunikasi mencatat definisi komunikasi interpersonal sebagai berikut: “Komunikasi yang berlangsung dua arah timbal balik dalam bentuk percakapan anatara dua atau tiga orang, baik secara tatap muka maupun melalui media.”[8] Komunikasi antarpersonal adalah “proses pengiriman dan penerimaan pesan-pesan antara dua orang atau  di antara sekelompok kecil orang-orang, dengan beberapa efek dan beberapa umpan balik seketika.”[9] Djoko Purwanto Purwanto sebagaimana dikutip Rahmawaty mendifinisikan komunikasi antrapribadi sebagai:

komunikasi yang dilakukan seseorang dengan orang lain dalam suatu masyarakat maupun organisasi (bisnis atau nonbisnis), dengan menggunakan media tertentu dan bahasa yang mudah dipahami (informal) untuk mencapai suatu tujuan tertentu.[10]

Burleson memberikan pandangan berkenaan dengan komunikasi interpersona berdasarkan perspektif situasional, demikian:

komunikasi interpersonal biasanya berlangsung di antara dua rang yang terlibat dalam interaksi tatap muka, mengunakan baik saluran verbal maupun nonverbal, dan memiliki kesempatan untuk memberikan umpan balik dengan segera.[11]

CIRI-CIRI KOMUNIKASI ANTARPERSONAL (INTERPERSONA)

Untuk memahami komunikasi antarpersonal dengan lebih jelas, ada lima ciri dari kegiatan yang menandai komunikasi antarpribadi, yaitu:

  1. Awalnya, ada “kesepakatan pandangan” (perceptual engangement) pada diri dua orang atau lebih dalam kegiatan jasmani. (kontak sosial yang mendasar merupakan prasyarat bagi jenis kegiatan ini.
  2. Kesepakatan pandangan memungkinkan ketergantungan komunikasi yang menyebabkan terpusatnya interaksi yaitu sebuah pusat kognitif dan fisual sebagaimana dalam sebuah perbincangan. Di dalam interaksi terpusat ini setiap peserta mengirimkan sinyal-sinyal sebagai tanggapan langsung pada sinyal peserta.
  3. Interaksi terpusat ini berkembang kembali melalui suatu pertukaran pesan. Dalam pertukaran ini pesertanya menyampaikan sinyal satu sama lain dan akan ditafsirkan seperti yang dimaksudkan kepada orang lain.
  4. Interaksi itu bebentuk tatap muka. Namun semua panca indera dapat digunakan dan pesertanya dapat saling berhadapan
  5. Bentuk komunikasi antara pribadi umumnya telah teratur, sejumlah aturan mengendalikan frekuensi, bentuk atau isi pesan antar

Alo Liliweri menyimpulkan beberapa ciri komunikasi interpersona sebagai berikut:

(1) Spontanitas, terjadi sambil lalu dengan media utama adalah tatap muka; (2) tidak mempunyai tujuan yang ditetapkan terlebih dahulu; (3) terjadi secara kebetulan di antara peserta; mengakibatkan dampak yang disengaja dan tidak disengaja; (5) kerap kali berbabas-balasan; (6)mensyaratkan hubungan paling sedikit dua orang dengan hubungan bebas dan bervariasi, ada keterpengaruhan; (7) harus membuahkan hasil; dan (8) menggunakan lambang-lambang yang bermakna.[12]

Berdasarkan konteksnya komunikasi memiliki sifar formal dan informal. Ciri-ciri yang disebutkan oleh Liliweri di atas mengesampingkan formalitas komunikasi interpersona. Komunikasi interpersona meliputi dua sifat komunikasi. Untuk melengkapi pemahaman tentang ciri-cici komunikasi antarpersona Burselon memberikan tiga ciri penting komunikasi interpersona, meliputi “proses yang komplek”, “proses yang terkait dengan konteks” dan merupakan “proses sosial”.[13] Ketiga aspek ini akan membentuk ciri komunikasi yang lengkap dan utuh, tanpa mengesampingkan sifat-sifat komunikasi berdasarkan konteksnya.

Unsur-unsur Komunikasi Antrapersona

Pengertian-pengertian dan kelima ciri di atas menyebutkan ada beberapa unsur dalam komunikasi antarpribadi, antara lain: pelaku komunikasi (komunikator), lawan bicara (komunikan), pesan (bisnis atau nonbisnis), media, bahasa informal, tujuan. Liliweri menyebutkan ada beberapa unsur dalam komunikasi antrapribadi, yaitu: konteks, manusia yang berkomunikasi, pesan-pesan, Saluran, gangguan, umpan balik, dan model proses komunikasi.[14]

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEEFEKTIFAN KOMUNIKASI ANTARPERSONAL

Faktor lain yang mepengaruhi keefektifan dalam komunikasi antarpribadi adalah faktor psiklogis, misalnya: tingkat kepercayaan, tingkat kekariban atau tingkat keintiman dan tingkat kekuasaan.[15] Kepercayaan yang dimaksudkan bukanlah kepercayaan berkaitan dengan iman. Kepercayaan memiliki beberapa makna, antara lain:

  • anggapan atau keyakinan bahwa sesuatu yg dipercayai itu benar atau nyata: ~kpd makhluk halus masih kuat sekali di lingkungan petani;
  • sesuatu yg dipercayai: bagi mereka hal itu bisa menghilangkan ~ rakyat kepada para pemimpinnya;
  • harapan dan keyakinan (akan kejujuran, kebaikan, dsb): hal itu dapat menghilangkan ~ rakyat kepada pemimpinnya;
  • orang yg dipercaya (diserahi sesuatu dsb): pemimpin itu sedang berunding dengan orang-orang ~ nya dari daerah; 5. sebutan bagi sistem religi di Indonesia yg tidak termasuk salah satu dari kelima agama yg resmi: tokoh itu adalah penganut aliran ~.[16]

Kepercayaan yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah kepercayaan dalam arti yang kedua dan keempat. Kepercayaaan antara komunikator terhadap komunikan, dan sebaliknya komunikan kepada komunikator menye-babkan komunikasi berjalan secara efektif karena ada rasa aman saat proses komunikasi sedang berlangsung.

Kekariban/keintiman/keakraban merupakan faktor psikologis lain yang me-nyebabkan komunikasi antara pribadi menjadi efektif. Kekariban dipahami sebagai “tolak ukur dimana individu saling menerima satu sama lain.”[17] Kekariban menyebabkan komunikasi antar pribadi berjalan secara efektif karena seorang individu yang terlibat dalam komunikasi antarpersona dapat mengungkapkan semua perasaannya secara bebas tanpa ada rasa malu, canggung atau curiga terhadap komunikanya.

Tingkat kekuasaan atau kekuatan merupakan unsur ketiga yang memliki pengaruh yang signifikan dalam komunikasi antarpersona Kekuasaan atau kekuatan merupakan “kemampuan orang atau golongan untuk menguasai orang atau golongan lain berdasarkan kewibawaan, wewenang, karisma, atau kekuatan fisik;.”[18] Dalam hubungan antar pribadi kekuatan diartikan sebagai “kemampuan untuk mempengaruhi pasangan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.”[19] Keberhasilan dalam komunikasi antar pribadi bergantung kepada kekuatan dan kekuasaan komunikator untuk mempengaruhi komunikan-nya.

Kepercayaan, kekariban, dan kekuasaan memberikan pengaruh yang besar dalam komunikasi antarpersona. Selain itu keefektifan komunikasi interpersonal bergantung kepada “keterbukaan”, “empati”, “sikap Positif”, “sikap mendukung” dan “kesetaraan”.[20] Oleh karenanya komunikator perlu meningkatkan hubungan personal untuk meningkatkan kepercayaan, kekariban, dan kekuasaannya. Berikut ini  upaya-upaya yang dapat meningkatkan hubungan antarpribadi:

  1. Dengan menjadi mampu untuk mengetahui, belajar prinsip-prinsip, konsep-konsep dan ide-ide.
  2. Dengan menjadi terampil menerjemahkan pengetahuan menjadi tindakan/perbuatan
  3. Dengan menjadikannya sebagai motivasi/dorongan.
  4. Dengan menjadi lebih fleksibel dan selektif terhadap perilaku yang benar. Kita harus ingat, bahwa satu ukuran tidak berlaku untuk semua.
  5. Berorientasi pada pihak lain, dengan membangun hubungan empati terhadap teman/pasangan kita.[21]

JENIS KOMUNIKASI ANTARPERSONAL

Komunikasi Diadik (Dyadic Communication)

Diadik komunikasi adalah bentuk “komunikasi antarpersona yang berlangsung antara dua orang yakni yang seorang adalah komunikator yang menyampaikan pesan dan yang seorang adalah komunikan yang menerima pesan”[22] Dapat dirumuskan bahwa bentuk-bentuk komunikasi antarpribadi, antara lain: “wawan-cara (interview), interaksi sosial, interaksi intim dan Introgasi.”[23] Wawancara merupakan bentuk komunikasi antarpribadi yang bersifat formal. Biasanya terjadi pada penerimaan mahasiswa baru, penerimaan karyawan baru, pengumpulan data-data ilmiah, dan lain sebagainya. Interaksi intim biasa terjadi dalam keluarga atau seseorang yang mempunyai hubungan spesial. Misalnya: komunikasi antara kakak adik, orang tua dan anak, suami dengan istri, seseorang dengan sahabat, dll. Interaksi sosial biasanya terjadi secara informal, dan bertujuan untuk menyenangkan seseorang secara sederhana. Sedangkan intrograsi biasanya dilakukan untuk mendapatkan fakta-fakta, informasi-informasi yang akurat dari pihak terkontrol untuk kepentingan khusus.

Perwujudan bentuk komunikasi diadik Interpersona, antara lain:

  1. Transendental communication: bentuk komunikasi yang bersifat keagamaan.
  2. Korespondensi:
  3. Gesture Communication: bentuk komunikasi dengan bahasa tubuh, contohnya: gerakan mengangguk sebagai prasyarat setuju (konteks Indonesia: Jawa), melambaikan tangan sebagai ajakan untuk mendekat,
  4. Rumor/gossip: bentuk percakapan yang sering memiiki konatasi negatif, yang merupakan percakapan antara dua orang yang isinya membi-carakan tentang orang lain.
  5. Percakapan merupakan bentuk komunikasi yang semua orang pernah terlibat di dalamnya. Sebagai contoh: percakapan antara dua orang yang meminta pentujuk jalan menuju ke suatu tempat.

Komunikasi kelompok (Group Communication)

Komunikasi kelompok merupakan “komunikasi yang berlangsung antara seorang komunikator dengan sekelompok orang yang jumlahnya lebih dari dua orang.”[24] Komunikasi kelompok interpersona (Group Communication Interpersona) terdiri dari 2 klasifikasi, yaitu Small group. Perwujudan komunikasi kelompok kecil dapat diperhatikan dalam aktivitas: Diskusi; Kuliah, Ceramah, Rapat, Seminar, Simposium, Lokakarya, Konggres. Larger group. Rapat Akbar.[25]

Kumunikasi interpersona khususnya komunikasi diadik prosesnya keber-langsungannya sangat dipengaruhi oleh hubungan pribadi dari antarpersona. Hubungan antarpribadi terjadi tahap demi tahap. Setidaknya ada lima tahapan dalam komunikasi antarpribadi, yaitu: kontak, keterlibatan, keakraban, perusakaan dan pemutusan.[26]

HAKEKAT PELAYANAN KRISTEN

Pelayanan artinya “segala bentuk aktivitas yang diberikan oleh suatu pihak yang lain atau pelanggan dengan tujuan dapat memberikan kepuasan kepada pelanggan yang bersangkutan atas barang dan jasa yang diberikan.”[27] Pelayanan juga diartikan sebagai suatu kegiatan atau urutan kegiatan yang terjadi dalam interaksi langsung antara seseorang dengan orang lain atau mesin secara fisik, dan menyediakan kepuasan pelanggan.[28]

Kristen adalah orang-orang percaya Kristus (KPR 11:26). Dengan demikian pelayanan Kristen dapat dipahami sebagai segala bentuk aktivitas yang diberikan oleh pribadi/lembaga Kristen dengan tujuan tertentu, yang terjadi dalam interaksi langsung antara pribadi/lembaga Kristen dengan orang Kristen maupun non Kristen dalam rangka menyalurkan kasih Kristus. Pelayanan Kristen merupakan

pelayanan yang holistic, artinya pelayanan yang utuh dan menyeluruh. Oleh karena itu, pelayanan Kristen mewujudnyatakan Injil yang utuh bagi manusia yang utuh. Holistik artinya melihat kebutuhan-kebutuhan manusia baik kebutuhan-kebutuhan individualnya maupun sosialnya, kebutuhan-kebutuhan fisik, psikis maupun kebutuhan spiritualnya, kebutuhan-kebutuhan sekarang di bumi ini maupun nanti setelah kematian, dan sebagainya.”[29]

Manusia memiliki dimensi tubuh, jiwa dan roh. Pelayanan Kristen harus sanggup menyentuh ketida dimensi ini. Pelayanan dilakukan untuk memberikan pelayanan terhadap kebutuhan fisik, jiwani dan rohani manusia. Pelayanan Kristen tidak bisa mencapai tujuan pelayanan seperti di atas hanya dengan satu bentuk pelayanan. Pelayanan Kristen memerlukan kemasan atau bentuk yang tepat untuk mencapai tujuan pelayanannya.

BENTUK-BENTUK PELAYANAN KRISTEN

Pelayanan Kristen mencakup pelayanan sosial, fisik, psikis dan dan spiritual. Untuk melaksanakan pelayanan tersebut Pelayanan Kristen memiliki keragaman bentuk interaksi. Beberapa di antara keragaman tersebut dapat dilihat dalam fungsi gereja yang meliputi lima pokok utama yaitu: “bersaksi, bersekutu, beribadah, pengajaran, dan melayani.” Dalam kelima fungsi tersebut di atas tersimpul beberapa ragam pelayanan kristen yaitu pelayanan penginjilan, pendidikan Kristen, penggembalaan.

Pelayanan Penginjilan merupakan bentuk pelayanan Kristen untuk menjalankan fungsi gereja dalam bersaksi. Pelayanan pendidikan Kristen merupakan bentuk pelayananan Kristen yang dilakukan dalam rangka menjalankan fungsinya dalam pengajaran. Pelayanan Penggembalaan dilakukan dalam rangka untuk menjalankan fungsi beribadah dan juga bersekutu.

Pelayanan penginjilan

Pelayanan penginjilan merupakan bentuk pelayanan Kristen yang diamanat-kan oleh Tuhan Yesus Kristus (Matius 28:18-20). Pelayanan Kristen memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan kabar keselamatan kepada orang-orang yang belum percaya.[30] Keteladan Tuhan Yesus dalam pemberitaan Injil tampak jelas dalam perjalanan pelayanannya selama ada didunia. Salah satu yang paling terkenal adalah pertemuannya dengan perempuan Samaria (Yoh.4)

Mentoring pribadi

Bentuk pelayanan Kristen yang lain adalah Mentoring. Pembimbingan adalah “suatu pengalaman yang menyangkut hubungan yang melaluinya seseorang memberikan kemampuan kepada orang lain dengan cara membagikan ketrampilan yang diberikan oleh Allah.[31] Kata yang lain untuk menjelaskan istilah mentoring adalah “pendampingan” artinya suatu usaha untuk membantu orang yang didampingi menyikapi kehidupan masa lampau, masa ini dan bagaimana menyongsong masa depan.[32]

Pelayanan Sosial

Pelayanan sosial merupakan bentuk pelayanan Kristiani untuk mejalankan fungsi “melayani” sesama. Beberapa contoh kegiatan pelayanan sosial, misalnya: penjangkauan anak-anak jalanan, panti asuhan Kristen, pendidikan umum yang dikhususkan bagi orang-orang yang berada di bawah garis kemiskinan, rehabilitas pecandu narkoba, layanan untuk panti jompo, dll.

Pelayanan Pastoral (Penggembalaan)

Pelayanan pastoral meliputi pelayanan gereja dalam hubungan dengan jemaat. Bentuk-bentuk pelayanan pastoral dapat diperhatikan dalam pelayanan peribadatan di gereja: kotbah, liturgi, dsb. Pelayanan pastoral juga meliputi pelayanan kunjungan (visiting), konseling pastoral yang bertujuan membimbing warga gereja untuk bertumbuh dalam iman dan memiliki kedewasaan dalam Kristus.

Pendidikan Agama Kristen

Eavey mendifinisikan pendidikan Agama Kristen sebagai berikut: “Christian Education is interaction with the environment-interaction resulting in changes in individual. In its fundamental essence, Christian education is interaction of the soul with its environment-God.[33] (Pendidikan Kristen adalah interaksi dengan lingkungan- interaksi yang menghasilkan perubahan individu. Dalam esensi fundamental, pendidikan kristen adalah interaksi jiwa dengan lingkungannya).

Berdasarkan pengertian di atas ada dua perubahan dalam pelaksanaan PAK yang efektif: pertama, Jiwa menjadi hidup (berubah dari kematian ke hidup yang kekal karena Injil) dan kedua, membangun kepribadian Kristen (membawa kepada kesempurnaan dalam Yesus)

Andreas B. Subagyo mendifinisikan pendidikan Kristen sebagai “salah satu cara mewujudkan kebaikan tertinggi (summun bonum) bagi manusia. Maka upaya-upaya kependidikan adalah upaya-upaya yang dianggap paling baik untuk mewujudkan summum bonum itu”[34]

Pelayanan Kristen, apapun bentuknya memiliki tugas untuk membawa pribadi-pribadi mengenal Kristus. Sebuah artikel dalam salah satu block menuliskan demikian:

Pelayanan Kristiani adalah bukan dimana kita membawa atau mengajarkan agama Kristen kepada yang kita layani, tetapi yang harus kita lakukan adalah membawa Kristus kepada mereka, agar mereka juga dapat merasakan sukacita, damai dan kasih dari Allah. Pelayanan bukanlah suatu tugas bergengsi yang harus diperebutkan, bila hal tugas diperebutkan dengan keras pasti ada motivasi lain dalam pelayanan tersebut. Karena itu pelayanan yang baik harus meniru Yesus Kristus yang penuh rendah hati, penyangkalan diri, punya empati dan simpati. Seluruh orientasi pelayanan kita haruslah untuk memenuhi kebutuhan orang lain, bukan kepada diri sendiri.[35]

Jadi baik pelayanan penginjilan, pendidikan, penggembalaan mentoring, atau pelayanan sosial yang dilakukan pihak Kristiani memiliki tugas utama untuk membawa pribadi, pribadi mengenal Kristus dan kasihNya dan memiliki hubungan pribadi dengan Kristus.

KOMUNIKASI ANTARPERSONA YANG EFEKTIF BAGI PELAYANAN KRISTEN

Komunikasi memegang peranan penting dalam pelayanan Kristiani. Pelayanan Kristen sebagaimana dijelaskan dalam pembahasan sebelumnya tidak akan mencapai tujuannya jika tidak ada interaksi lingkungan. Oleh karena itu pelayanan Kristen membutuhkan komunikasi yang efektif dalam menjalankan tugasnya.

Komunikasi antar pribadi yang dapat diukur dengan melihat beberapa kualitas tertentu. Rosmawaty menuliskan ada tiga gambaran untuk mengukur kualitas komunikasi antar pribadi yaitu:[36] Pertama, Dilihat dari hubungan Personalisasi. Ukuran yang menjelaskan dimana hubungan antarpersonal lebih bersifat pribadi, sehingga hanya diketahui dan dipahami oleh masing-masing individu yang terlibat didalamnya. Kedua, Dilihat dari sinkronisasi, ukuran yang menjelaskan dimana dua individu dapat disatukan daam tujuan dan aturan dalam interaksi sehari-hari. Ketiga, dilihat dari Tingkat Kesulitan, tingkat ketegangan dan masalah yang mungkin terjadi dalam hubungan antarpersonal. Contohnya: Tekanan suara saat komunikasi berlangsung. Biasanya semakin rendah tekanan suara semakin baik kualitas komunikasi yang terjadi.

Komunikasi yang antarpribadi dalam pelayanan Kristen terjadi dalam per-cakapan pastoral konseling, mentoring pribadi, dan penginjilan pribadi.  Pelayan-an pastoral konseling adalah

hubungan timbal balik (interpersonal relationship), antara hamba Tuhan (pendeta, penginjil, dst) sebagai konselelor dengan konselinya (klien, orang yang minta bimbingan), dalam mana konselor mencoba membimbing konselinya ke dalam suasana percakapan konseling yang ideal (conducive atmosphere) yang memungkinkan konseli itu betul-betul dapat mengenal dan  mengerti apa yang sedang terjadi pada dirinya sendiri,  persoalannya, kondisi hidupnya, dimana ia berada, dst; sehingga ia mampu melihat tujuan hidupnya dalam relasi dan tanggungjawabnya pada Tuhan dan mencoba mencapai tujuan itu dengan takaran, kekuatan, dan kemampuan seperti yang sudah diberikan Tuhan kepadanya.[37]

Definisi di atas menyebutkan bahwa dalam pelayanan pastoral konseling perlu adanya “suasana percakapan yang ideal (conducive atmosphere)”. Percakapan semacam ini merupakan percakapan antarpribadi, atau dapat disebut sebagai komunikasi antarpribadi dalam pelayanan Kristen. Percakapan yang ideal terdiri dari dua unsur utama yaitu understanding dan responding.

Understanding dalam konteks ini dipahami sebagai “sikap positif dan terencana dari konselor yang diekspresikan melalui pemberian kesempatan seluas luasnya kepada konsele untuk mengekspresikan dirinya secara tepat”[38] Understanding meliputi unsur-unsur “Empaty (empathic understanding), Acceptance dan listening (effective listening)”[39]

Empaty adalah “sikap positif konselor terhadap konsele, yang diekspresikan melalui kesediaannya untuk menempatkan diri pada tempat konsele, merasakan apa yang dirasakan konsele, dan mengerti dengan pengertian konsele.”[40] Ecceptance adalah “kesediaan konselor untuk menerima keberadaan konselenya sebagaimana ia ada. Suatu sikap nonjudgemental (tidak mengadili) artinya, tidak melihat konsele semata-mata berdasar kesalahan, kelemahan dan kegagal-an saja.”[41] Sedangkan Listening adalah unsur utama dari understanding. Listening dipahami sebagai kesediaan untuk mendengar secara profesional.

Mendengar adalah “pemakaian sensitivitas yang tinggi secara disipli dengan maksud menangkap baik kata-kata yang diucapkan konsele maupun perasaan dibalik kata-kata, ekspresi wajah dan tingkah lakunya. Itulah sebabnya efective listening disebut diciplined listening.[42]  Diciplined listening melibatkan sikap-sikap: kesadaran dan sensitivitas terhadap sikap konselor  selama listening berlaku; kemampuan untuk menangkap inti kata-kata yang diucapkan konsele secara obyektif; kemampuan konselor untuk menahan diri dari dorongan untuk kata-kata lebih banyak dari konsele atau memberikan kata-kata sebelum waktunya.[43]

Responding adalah pemberian tanggapan yang membangun dalam proses komunikasi. Responding yang efektif dapat menciptakan suasana percakapan  yang conducive. Effective Responding melibatkan unsur-unsur: “warmth (kehangatan)”; support (dukungan); genuineness (kemurnian sikap konselor); dan stimulating yaitu sikap aktif untuk menolong konsele yang aktif.[44]  Unsur-unsur tersebut dapat menciptakan suasana percakapan yang kondusif.

Pelayanan Kristen dalam penginjilan juga melibatkan komunikasi antarpribadi. Penginjilan adalah satu tindakan menyampaikan atau memberitakan Injil kepada orang lain dan menolong orang untuk menerima Kristus secara pribadi.[45] Kata kerja ‘memberitakan’ memiliki kesamaan arti dengan ‘mengko-munikasikan’. Dalam pelayanan penginjilan pesan yang akan dikomunikasi-kan adalah Injil Kristus. Proses mengkomunikasikan injil tidak dapat dilakukan secara instan. Pelayanan penginjilan memerlukan pendekatan khusus, sehingga pesan yang dikomunikasikan dapat mencapai tujuannya. Penulis mengamati bahwa prisip-prinsip dalam komunikasi antarpribadi, khususnya wawancara dapat dipakai sebagai pendekatan dalam mengkomunikasikan Injil. Bill Scott memberikan prinsip membuka wawancara demikian: “Pada saat awal pewawancara harus menciptakan atmosfir agar terjadi dialog yang bernilai. Karakteristik suasana tersebut adalah Santai, Jujur, Lugas,  Rasional.[46]

Suasana percakapan antarpribadi semacam ini juga dilakukan oleh Yesus Kristus ketika memberitakan Injil kepada Perempuan Samaria (Yoh. 4:1-26). Yesus memulai percakapan dengan santai, memulai dengan sebuah permintaan sederhana “Berilah Aku minum.” Permintaan Yesus tersebut menghilangkan jarak antara orang Yahudi dan Samaria. Sehingga pada akhirnya perempuan tersebut mau mendengar Yesus. Dalam percakapan tersebut Yesus memberi kesempatan kepada perempuan Samaria untuk meyampaikan pendapatnya dan Yesus mendengarkan dengan seksama apa yang disampaikan oleh perempuan Samaria. Dengan jujur dan lugas Yesus menyampaikan berita tentang Air Hidup. Dengan lugas Yesus menegur perempuan itu (Yoh. 4:17-18).

Keefektifan komunikasi sangat dipengaruhi oleh sang komunikator. Oleh karena itu untuk membangun komunikasi yang efektif seorang komunikator perlu untuk mengenal komunikannya dengan baik, mempersiapkan pesan yang dibawanya, dan juga membangun hubungan persahabatan yang baik dengan komunikannya.[47]

KESIMPULAN

Pembahasan di atas memberikan gambaran jelas mengenai komunikasi antarpribadi yang efektif bagi pelayanan Kristen. Dapat  disimpulkan bahwa komunikasi antarpribadi yang efektif bagi pelayanan Kristen adalah komunikasi yang berfokus pada orang lain. Komunikasi antarpribadi yang efektif adalah komunikasi dimana komunikator memberikan diri seutuhnya untuk memahami dan meresponi orang lain tanpa meninggalkan unsur-unsur dari keduanya. Komunikasi antarpribadi yang efektif adalah komunikasi yang melibatkan unsur empati, kesediaan menerima orang yang dilayani apa adanya, dan juga memberi diri untuk menjadi pendengar yang aktif.

Komunikasi antarpribadi yang efektif dalam pelayanan Kristen adalah komunikasi yang memberikan tanggapan yang penuh kepada lawan bicara (komunikan). Komunikasi antarpribadi yang efektif bagi pelayanan Kristen adalah komunikasi yang dipenuhi dengan suasana kehangatan, penuh dukungan tanpa penghakiman, dan bertujuan untuk menolong dan memenuhi kebutuhan orang lain.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Berger Charles R. dkk. 2014.Handbook Ilmu Komunikasi. Bandung: Nusa Media.

Dani Vardiansyah. 2008. Filsafat Ilmu Komunikasi. Jakarta: PT INDEKS.

Eavey C.B. 1964. History of Christian Education. Chicago: Mddy Perss.

Efendi Onong Uchjana. 1993. Ilmu, Teori dan Folsafat Komunikasi. Bandung: Citra Aditya Bakti.

Harianto GP. 2012. Komunikasi dalam Pemberitaan Injil. Yogyakarta: Andi.

Hery Susanto. tth.Kompilasi Komunikasi dan Pelayanan Kristen. Salatiga: STTJKI.

Liliweri Alo. 1994. Perspektif Teoritis Komunikasi Antarpribadi. Bandung: Citra Aditya Bakti,

Mangunhardjana A. M. 1989. Pendampingan Kaum Muda. Yogyakarta: Kanisius.

Rosmawaty. 2010. Mengenal Ilmu Komunikasi. tp: Widya Padjadjaran.

Scott Bill. 2011. Ketrampilan Berkomunikasi (Tangerang: BINARUPA AKSARA.

Stanley Paul D. -J. Robert Clinton. 1996. MENTOR (Anda Perlu Mentor dan Bersedia menjadi Mentor). Malang: Gandum Mas.

Subagyo Andreas B. 2005. Pengantar Pendidikan Kristen. Semarang: Colloquium ABGTS.

______. 1978. Penginjilan Pribadi. Malang: Lembaga Kursus Alkitab Tertulis Internasional.

Yakup B. Susabda. tth. Pastoral Konseling. Malang: Gandum Mas.

http://artikata.com/arti-369097-kekuasaan.html

http://artikata.com/arti-373712-kepercayaan.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi

http://www.psychologymania.com/2012/12/pengertian-pelayanan-pelanggan.html

http://www.jeffrypapare.com/2012/09/memaknai-pelayanan-kristen.html

[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi

[2] Rosmawaty, Mengenal Ilmu Komunikasi (tp: Widya Padjadjaran, 2010), 14

[3] Ibid.

[4] Ibid, 14

[5] Dani Vardiansyah, Filsafat Ilmu Komunikasi (Jakarta: PT INDEKS, 2008), 28

[6] Rosmawaty, Mengenal Ilmu Komunikasi (tp: Widya Padjadjaran, 2010), 30

[7]     Ibid, 72

[8]     Onong Uchjana Effendy, Kamus Komunikasi (Bandung: Mandar Maju, 1989), 188.

[9]     Rosmawaty, Mengenal Ilmu Komunikasi (tp: Widya Padjadjaran, 2010), 30

[10] Ibid, 73

[11]    Brant R. Burleson, “Bentuk Komunikasi Interpersonal Pendekatan yang Berpusat pada Pesan”, Handbook Ilmu Komunikasi, (Bandung: Nusa Media, 2014), 208.

[12] Alo Liliweri, Komunikasi Antarpribadi (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1997), 13.

[13]    Brant R. Burleson, “Bentuk Komunikasi Interpersonal Pendekatan yang Berpusat pada Pesan”, Handbook Ilmu Komunikasi, (Bandung: Nusa Media, 2014), 217.

[14]    Alo Liliweri, Perspektif Teoritis Komunikasi Antarpribadi (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1994), 9-27

[15]    Ibid, Rosmawaty, 79

[16]    http://artikata.com/arti-373712-kepercayaan.html

[17]    Ibid, Rosmawaty, 79

[18]    http://artikata.com/arti-369097-kekuasaan.html

[19]    Ibid Rosmawaty

[20]    Hery Susanto, Kompilasi Komunikasi dan Pelayanan Kristen (Salatiga: STTJKI, tth), 17

[21] Ibid, Rosmawaty, 78

[22] Onong Uchjana Efendi, Ilmu, Teori dan Folsafat Komunikasi (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1993), 62.

[23] Hery Susanto, Kompilasi Komunikasi dan Pelayanan Kristen (Salatiga: STTJKI, tth), 17

[24]    Onong Uchjana Efendi, Ilmu, Teori dan Folsafat Komunikasi. Bandung: Citra Aditya Bakti, 1993,75

[25]    Rina….

[26]    Joseph A. Devito, Komunikasi Antarpribadi. Jakarta: Profesional Books, 1997

[27]    http://www.psychologymania.com/2012/12/pengertian-pelayanan-pelanggan.html

[28]  Ibid, www,psychologymania

[29] http://www.jeffrypapare.com/2012/09/memaknai-pelayanan-kristen.html

[30] Harianto GP, Komunikasi dalam Pemberitaan Injil (Yogyakarta: Andi, 2012), 135-137.

[31]    Paul D. Stanley-J. Robert Clinton, MENTOR. Anda Perlu Mentor dan Brsedia menjadi Mentor (Malang: Gandum Mas, 1996), 11-12

[32]    A. M. Mangunhardjana, Pendampingan Kaum Muda (Yogyakarta: Kanisius, 1989), 22

[33]    C.B Eavey, History of Christian Education. (Chicago: Moddy Perss, 1964), 7

[34]    Andreas B. Subagyo, Pengantar Pendidikan Kristen. (Semarang: Colloquium ABGTS, 2005), 3

[35]    http://www.jeffrypapare.com/2012/09/memaknai-pelayanan-kristen.html

[36] Rosmawaty, Mengenal Ilmu Komunikasi (tp: Widya Padjadjaran, 2010), 80

[37] Yakup B. Susabda, Pastoral Konseling (Malang: Gandum Mas, tth.), 4

[38] Ibid, Susabda, 24-5

[39] Ibid, 27-31

[40] Ibid, 27

[41] Ibid, 28

[42] Ibid, 31

[43] Ibid, Susabda, 31.

[44] Ibid, Susabda, 33

[45] Penginjilan Pribadi (Malang: Lembaga Kursus Alkitab Tertulis Internasional, 1978), 5

[46]    Bill Scott, Ketrampilan Berkomunikasi (Tangerang:  BINARUPA AKSARA, 2011), 361.

[47]    Harianto GP, Komunikasi dalam Pemberitaan Injil (Yogyakarta: Andi, 2012), 147-151

 

Volume 4 no 2

YESUS DAN BAPA ADALAH SATU DALAM YOHANES 10:30

SEBAGAI DASAR BERAPOLOGETIKA BAGI KAUM MUSLIM

Rekno Budiyanto

Alumni Sekolah Tinggi Teologia Jemaat Kristus Indonesia
Salatiga, Indonesia
ABSTRAK

Kesatuan antara Yesus dan bapa adalah satu, hal yang sering menjadi perdebatan sampai saat ini.  Adanya orang-orang yang tidak mempercayai tentang kesatuan antara Bapa dan Yesus menyebabkan argumentasi yang menentang ataupun menerima makna kesatuan itu. Kesatuan itu sendiri merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan.  Kesatuan antara Yesus dan Bapa merupakan bukti bahwa Dia benar-benar Allah.  Yesus dan Bapa satu dalam sifat maupun pekerjaannya.

Kata Kunci: Aku, Satu, Bapa, Yesus

PENDAHULUAN

Apologetika adalah mempertahankan iman dari pertanyaan-pertanyaan dari orang lain yang berkenaan dengan iman kepercayaannya.  Orang Kristen harus bisa mempertahankan iman kepada Yesus di tengah-tengah kehidupan yang penuh tantangan. Orang Kristen juga harus memberitakan Injil dengan pengertian Kristologi yang benar sehingga dapat berapologetika dengan lawan bicara atau sasaran penginjilan.

Peneliti akan menjawab tentang kebenaran mengenai Yesus dan Bapa adalah satu.  Konsep satu dalam agama apa saja adalah satu dan tidak ada yang lain. Satu adalah utuh, demikian juga dengan konsep yang kaum Kristen percaya.  Umat Muslim sependapat bahwa Allah itu Esa (satu) dan Allah tidak memperanakkan dan diperanakkan.  Allah adalah tunggal.  Allah adalah satu didalam sifat yang hakiki dan tidak berubah oleh ruang dan waktu dalam arti yang lain Allah adalah kekal.

Ajaran Islam bagi Kaum Muslim tentang ke-Esaan ALLAH

Ajaran Islam berpandangan bahwa Allah yang disembahnya itu adalah Allah yang Esa.  Allah yang tidak diperanakkan dan tidak memperanakan. Bahkan umat Islam (selanjutnya disebut kaum muslim) sering mengucapkan kalimat bahwa tidak ada Allah lain selain Allah yang umat Islam sembah. Dalam Al’Quran dikatakan dalam Surah 112 berbunyi; “katakanlah: Dialah Allah, yang maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadaNya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” Surah ini menegaskan bahwa umat Islam benar-benar menyembah kepada satu Allah yang Esa.

Sebutan Allah yang esa bagi kaum Muslim adalah Ahad dan Wahid.  Sebutan ini yang sangat mendukung mengapa kaum Muslim menonjolkan ke Allahan Allahnya. Allahnya umat muslim adalah Allah yang esa atau tunggal tidak beranak dan diperanakkan.  Dukungan ini sangat kuat dengan dukungan kata di atas tadi yaitu Ahad dan Wahid. Kata Ahad atau al berarti satu berarti satu mutlak.  Misalnya Ia tamadachu ahadan (janganlah kamu memuji seseorang) atau Wa kullu ahadin ilaihi muchjatun (tiap sesuatu berhajat kepadanya). Kata ahad dikaitkan dengan ilahian, bermakna satu, mutlak, tidak lebih, dapat dibandingkan dengan bahasa inggris dalam kata Unigue dan dalam bahasa Ibrani Yached. Kata Wahid atau atau wahada dalam bahasa Arab berarti satu dalam beberapa pengertian antara lain; sendiri atau sendirian satu-satunya atau esa, tunggal tidak ada bandingan samanya. Eka dalam arti tanpa susunan (Simplicity-decomposition).(Hamram Ambrie, 1976:9)

Makna keesaan Allah ini adalah meliputi seluruh sifat Allah untuk menyatakan keesaan Allah ini dipergunakan kata Wahid yang artinya tunggal atau esa.  Kata ini dipergunakan untuk menunjukan satu dalam keesaannya dan kata ini dapat dikaitkan dengan keilahiaannya yaitu keesaan Allah. Allah wajib ada dengan dengan pengertian bahwa Allah tidak mungkin mempunyai sekutu-sekutu atau mustahil tersusun dari bagian-bagian.  Oleh karena kaum Muslim jarang mengunakan istilah kesatuan, sebab kata kesatuan ini berasal dari kata satu yang sebenarnya satu tambah satu menjadi satu tetapi satu ditambah satu ditambah satu sama dengan tiga.  Kaum Muslim berpandangan bahwa satu itu adalah satu dan bukan yang lain.

Ajaran Kristen tentang ke-Esaan ALLAH

Alkitab benyak menjelaskan tentang kesatuan (keesaan) Tuhan, baik dari Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.  Keesaan Allah merupakan sebuah pernyataan yang utama dalam ajaran Kristen.Perjanjian Lama dengan tegas menyatakan bahwa hanya ada satu Allah “Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu Esa” (Ulangan 6:4). Kata pertama yang dituliskan adalah “dengarlah’ ini menunjukan bahwa benar hanya satu Allah bagi kaum Israel pada waktu itu.  Bangsa Israel terus menerus mengakui akan keesaan Allah.

Keesaan Allah Muncul dalam Perjanjian Lama bahwa bangsa Israel sudah mengenal akan ketritunggalan Allah. Ini ditunjukkan dengan ungkapan kata “kita” dalam Kejadian 1:26, “Berfirmanlah Allah: baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa kita….” kata ‘Kita’ dalam teks ini menunjukan kata ganti orang pertama jamak dan dipakai untuk Allah.  Bangsa Ibrani sudah terbiasa mengucapkan kata-kata Pujian dan penghormatan dengan memakai kata dalam bentuk jamak. Sudah menjadi kebiasaan bagi Bangsa Ibrani untuk berkata-kata tentang sesuatu yang terhormat dengan memakai bentuk jamak meskipun yang dimaksudkan tunggal.  Misalnya Allah, TUHAN, air dan Surga.  Semuanya ditulis dalam bentuk jamak.  Akan tetapi “kita” dalam teks ini adalah lebih dari sekedar gelar kehormatan atau kebangsawanan yaitu menunjukkan suatu kebesaran dan kemahakuasaan (Ichwei G. Indra, 1999:6).

Orang Yahudi menunjuk kata “satu’’ menggunakan dua kata yaitu yac head dan echad. Kata yac head menunjukkan satu tetapi bilangan contoh satu rumah.  Sedangkan echad menunjukkan kepada keesaan Allah.  Yac head adalah untuk menunjuk bilangan, yaitu “satu” mutlak, misalnya: satu anak. Echad adalah meunjukkan “satu” dalam arti keesaan. Dengan kata lain bahwa echad adalah satu majemuk, misalnya satu pasang suami istri. “satu” dalam melukiskan keesaan Allah dalam erjanjian Lama, selalu dipergunakan kata “echad” dan sama sekali tidak pernah dipergunakan kata Yac head (Hambram Ambrei, 1976:5). Tiga nama yaitu Allah, Firmannya atau Yesus Kristus dan Rohnya (Roh Kudus) adalah satu dalam zat Allah yang maha Esa, dengan kata lain dikatakan Tritunggal (1976:38).

Ajaran Kristen bersumber kepada kepercayaan Abraham (Bapa segala Bangsa) dengan mempunyai akar iman yang luarbiasa yaitu monotheis yaitu berAllahkan yang maha Esa. Kemahaesaan ini jelas dapat dibaca dalam Alkitab, salah satunya Ulangan 6:4-5, “Dengarlah hai orang Israel Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu Esa.  Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, denan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatannmu.” Bahasa Ibaraninya “sy’ama Yisraeel, adonay El ochnoc adonay echad”. Kata Echad disini menunjukkan kata sifat yang ditunjukan kepada keesaan Allah, dengan kata echad dapat dimengerti bahwa ada unsur-unsur lain yang bisa disatukan di dalam kesatuan atau keesaan Allah. Ketiga unsur itu adalah Al Khalik (Bapa), Firman (Yesus Kristus) dan Roh Kudus yang adalah satu dalam sifat Allah yang maha Esa.

Allah menyatakan dirinya Esa. Yohanes 17:3 yang berbunyi:” inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” Satu atau Esa bagi Allah janganlah diartikan secara aksara satu ditambah satu ditam-bah satu sama dengan tiga. Apabila dihitung secara angka maka akan terjadi kekeliruan yang sangat besar bahwa Allahnya orang Kristen ada tiga dan umat kristen menyembah kepada ketiga-tiganya. Satu yang terdiri lebih dari satu unsur atau oknum yang berhubungan. Kata yang digunakan untuk menunjuk “satu” yang artinya esa adalah dalam 1 Korintus 1:3-8, ia yang menanam dan menyiram adalah satu. I korintus 12:13 juga menyatakan “…dibabtis menjadi satu tubuh” dan juga Yohanes 10:30 mengatakan Aku dan Bapa adalah satu.

Asas Trinitas tidak mengemukakan Jumlah Allah melainkan kebebasan dan keagungan kuasa Allah. Jumlah Allah hanyalah satu atau esa, tunggal dengan kewibawaan. Kuasanya yang ilahi yaitu Allah dengan kata lain juga disebut Bapa atau sebutan akrab seperti seorang anak dengan bapaknya yaitu Dia yang menciptakan langit dan bumi dan seisinya (Al Khalik).  Bisa juga disebut FirmanNya menjadi seorang manusia yang dinamakan Yesus Kritus, yang merupakan juru bicara Allah atau bisa juga dikatakan Firman Allah yang hidup (I Yoh 1:3).  Setelah Yesus dibabtiskan ditanyakan sebagai anak Allah Allah yang hidup (Matius 3:170.  Sesudah Tuhan Yesus naik ke Surga Ia berjanji untuk memberikan seorang penolong untuk umat manusia yaitu Dia (Rohnya) dalam kata lain Roh Kudus.

Eksegesa Yohanes 10:30

Yohanes 10:30 ini ditunjukkan kepada orang-orang Yahudi yang menolak kemesiasan Yesus dan tidak mempercayai akan kesaksian Yesus. Bapa dan Yesus bukan dua pribadi yang berbeda melainkan satu pribadi atau oknum yang sama. Mereka mempunyai sifat dan kuasa yang sama. Bapa di dalam Yesus dan Yesus di dalam Bapa, jadi merupakan pribadi yang tidak bisa dipisahkan tetapi berkait .

NIV John 10:30 I and the Father are one.”BGT John 10: ego kai o pater en esmen ITB John 10:30 Aku dan Bapa adalah satu.”(Biblework7)

 

 Eksegesa kata evgw, ( (ego)

Yesus dan Bapa merupakan suatu kesatuan yang hakiki (tak terpisahkan).  Bapa didalam Yesus dan Yesus didalam Bapa. Kata “Aku” menyatakan Yesus sendiri kata yang digunakan adalah ego. Ego menunjuk kepada kata ganti orang pertama nominatif tunggal yang berarti saya. Ini menunjukkan penyataan pribadi dari Yesus sendiri kepada orang-orang Yahudi dan Farisi yang berada di Bait Allah. Yesus menyatakan pribadiNya yang sebenarnya bahwa Dia adalah Mesias yang sama dengan Allah (Bapa).  Ego (Aku) merupakan penyataan pribadi dari Yesus dan menjadi kemuliaan pribadi yang dinyatakan Allah kepada Yesus.

Perkataan Yesus bukan keluar dari bibir saja melainkan dari pribadi yang sebenarnya. Nama Aku (Yesus) membawa dampak yang besar dan berkuasa dan nama ini merupakan karakter yang esa. Injil Yohanes membawa konsep yang besar dan penting mengenai.  Ego sebagai doktrin Kristologi. Kata “Aku” yang diucapkan Yesus menunjuk kepada kesederajatannya dengan Bapa dan ini menunjukkan kedudukan Tuhan Yesus sebagai Anak dalam Roh atau Firman yang menjadi manusia. Kata “Aku” juga menunjuk kepada kemanusiaan Yesus yang menyatakan bahwa Yesus benar-benar manusia dan memiliki gelar Anak Allah. Hambram Ambri menegaskan dalam bukunya Korespondensi Agama Islam Kristen, “Aku” yang menunjukkan kesederajatan dengan Allah, maka berarti dalam kedudukan sebagai Anak dalam Roh atau Firman itu”.(1976:28) Kata “Aku” yang dipakai disini menunjuk kepada diri dari Tuhan Yesus sendiri dan menyatakan bahwa Dia sederajat dengan Allah.

  1. Eksegesa kata path,r (Pater)

Penggunaan kata Bapa dalam bahasa Yunani adalah kata Pater dan bentuk kata tersebut adalah kata benda nominatif tunggal yang mempunyai arti ayah atau bapa, sebagai bapa leluhur, sebagai gelar untk Tuhan; sebagai pencipta dan pengatur segalanya, sebagai Bapa dari Yesus Kristus, sebagai bapa dari orang-orang percaya, sebagai bapa spiritual, sebagai gelar jabatan, sebagai orang pertama dalam kelas. Yesus memberikan penekanan dalam ayat ini tentang arti Allah yang asli dalam kitab Taurat. Perkataan Yesus tentang Bapa ini menunjukkan kepada Bapa yang di surga bukan bapa secara dunia.

Kata Pater mengandung arti bahwa Dia dan Bapa yang sebenarnya (si Bapa itu). Kata Pater menunjuk kepada kewibawaan dan kekuasaaan yang Dia miliki. Nama Bapa juga bisa menunjuk kepada gelar segala sifat dari Allah sendiri, Bapa yang senantiasa memperdulikan anak-anakNya. Yesus juga menunjukkan hubungan yang penuh kasih dengan Allah dengan menyebut “Bapa”.  Bapa yang di surga, Bapa sekalian manusia. Allah adalah Bapa yang mengasihi anak-anakNya ini, Aia akan melakukan hal-hal yang baik bagi mereka (Elmer L. Towns,1985:200). Gelar atau sebutan Bapa ini merupakan gelar yang favorit dan unik, tidak ada ajaran lain yang menyebut nama ALLAHnya dengan sebutan Bapa. Ajaran ini diajarkan turun temurun menunjukkan hubungan yang intim seperti anak dengan bapaknya. Penyebutan ‘Bapa” sebagai bukti keagungan dari ajaran yang Kristus ajarkan kepada umatNya. Gelar atau sebutan favorit bagi Allah yang digunakan oleh Yesus Kristus dalam Perjanjian Baru adalah Bapa (kata Yunani: Pater) dalam Injil Yohanes Yesus menyebut Allah Bapanya sebanyak seratus limapuluh enam kali. Ia tidak hanya menyatakan milik hubungan yang akrab dengan Bapa melainkan Ia menyatakan bahwa dirinya satu dengan Bapa. (Towns, 1985:194).

Bapa itu adalah Allah yang hidup maka Bapa bukan sekedar sesuatu keberadaan Ilahi ta berpribadi, namun Ia adalah Allah yang berpribadi atau berhipotesis. Berhipotesis adalah “Yunani”; hypo yang berarti dasar, statis berdiri tegak, berpribadi. (Arkhimandrit Daniel Bambang, 2001;157). Bapa adalah pokok dan sumber di dalam Allah yang esa.

  1. Eksegesa kata e[n (En)

Penggunaan kata en dengan keterangan datif mempunyai arti secara teologi dalam Alkitab menunjukan hal yang khusus.  Kata en didalam Yohanes 3:13 tiodak ada penambahan, tetapi kata yang sejati maksudnya tidak dibatasi oleh keadaan lebih dahulu atau setelah keadaan, seluruhnya terjadi dari Firman Allah. Kata en juga digunakan untuk menunjuk sebuah penyataan di dalam sebuah paham dari ‘dengan”. Kata ini juga hanya menunjuk kapada tanah (tempat) atau dasar di dalam kebaikan.  Kata ini juga menunjukan arti “dengan’ atau “oleh”. Kata yang digunakan dalam bahasa Yunani adalah esmen bentuk dari kata kerja presen indikatif aktif tunggal bentuk dari eimi yang berarti “adalah”. Sedangkan kata Yunani untuk satu adalah en bentuk adjektif pronoun (kata sifat) nominatif Neuter tunggal dari eis yang artinya satu, sebuah, tunggal. (BibleWork)

Penerapan dalam berapologetika bagi Kaum Muslim

Orang Muslim mengungkapkan tentang Tritungal yang dipahami mereka sebagai tiga (jamak), Yesus sebagai Anak Allah. Masalah ini yang membuat orang muslim sulit untuk menerima keselamatan yang diajarkan oleh pengikut Kristus atau orang Kristen. Peneliti akan menjawab kebenaran bahwa Adalah Esa dan Yesus dan Bapa adalah Satu.

Apologetika mengenai Keesaan Allah

Mustahil bagi manusia untuk dapat mengambarkan secara sempurna kebera-daan Allah, namun ada prinsip-prinsip ajaraqn yang dibuka oleh Allah sendiri untuk membantu umatnya mengerti dan menghayati ajaran tentang kebera-daan Allah. Rumusan Tritunggal juga demikian Allah itu Esa menurut hakekat ke-AllahanNya, sekaligus tiga menurut kuasa dan pribadinya. Dapat dilihat perbedaanya dalam keesaan suatu segitiga, yaitu tiga sudutnya, sudut A, Sudut B, Sudut C, masing-masing berbeda tetapi satu segitiga. Demikian juga tentang keesaan Allah; ada tiga oknum Bapa, Firman, Roh Kudus, walaupun berbeda menurut sudutnya, tidak dapat dibagi-bagi atau dipisahkan, demikian juga tiga oknum atau kuasa Allah dibedakan menurut nama, pribadi dan fungsinya namun tetap satu.

Tritunggal dalam Al Quran menunjukkan dukungan dalam prinsip Alkitab.  Al Quran Surah Ali Imron 45” ingatlah ketika malaikat berkata: Ya Maryam! Sesungguhnya Allah memberi kabar suka kepada engkau dengan kalimatNya, yaitu dengan seorang anak namanya Almasih Isa anak maryam, yang mempunyai kebesaran di atas dunia dan akherat, sedang Ia salah seorang dari orang-orang yang dekat dengan Tuhan”. Quran An Nissa 171;”… sesungguhnya Almasih Isa anak Maryam rahul Allah dan kalimatnya yang dilimpahkan kepada Maryam bersama Roh daripadaNYa.”

Paham Tauhid yang sering mengaburkan pandangan akan dukungan dari Al Quran tentang trinitas dan ini yang menjadikan umat Islam tidak setuju adanya paham Trinitas dalam Alkitab. Pada hakekatnya dari dalam Al Quran tertulis tentang makna Tritunggal tetapi hal ini tidak diajarkan atau disampaikan kepada umatnya karena yang disampaikan hanyalah paham Tidak ada Tuhan selain Allah. Alkitab tidak mencatat tentang paham Tritunggal namun ajaran ini menjadi pemahaman yang dianut orang Kristen. Istilah Trinitas atau Tritunggal memang tidak terdapat dalam Alkitab secara harafiah. Tetapi pengertiannya memang terdapat dalam Alkitab. Dalam Injil Matius 1:8, Yohanes 1:1, 14 dan 1 Yohanes 1:1.  Allah Firman dan Roh Kudus adalah satu dalam Zat Allah yang esa yang tidak terpisahkan, tetapi dapat dibedakan. (Ambrie, 1976;9)

Apologetika Mengenai Yesus dan Bapa adalah Satu

Allah datang ke dalam dunia mengambil rupa seorang manusia, dilahirkan dari kandungan manusia, merasakan keadaan sebagai manusia tetapi unsur keilahianNya tetap sama dalam diri Yesus. Yohanes 1:14 menyatakan bahwa sang Firman mengambil rupa manusia. “mengenai perkataan’ menjadi manusia’ tidak dimaksudkan bahwa sang firman atau Anak merubah agar dapat menjadi manusia, menjadi manusia diartikan mengambil rupa manusia”.(Yohanes D Manzur, 1992;22).

Dua kodrat di dalam diri Yesus adalah bentuk kesatuan antara Bapa dan Sang Anak (Yesus). Kedua kodratnya tetap dapat dibedakan dan tidak melebur, tidak bercampur dan tidak merubah. Allah tetap tidak berubah (Yakobus 1:17), Allah tidak pernah berganti rupa, Allah tetap ada. Menjelaskan maka Yesus dan Bapa adalah satu tidak akan pernah selesai jika hanya dijelaskan dengan akal, tetapi juga iman.

Markus 12:29-30 mengatakan; “Maka jawab Yesus kepadanya: hukum yang terutama inilah ”dengarlah olehmu Israel, adapun Allah Tuhan kita adalah Tuhan yang Esa, maka hendaklah engkau mengasihi Tuhan Allahmu sebulat-bulat hatimu, dengan segenap jiwamu, dan penuh dengan akal budimu, akal budi akan menyelesaikan perkara hokum” (Alkitab versi Lama). Yesus dan Bapa adalah satu memang erat kaitannya dengan Tritunggal.

Doktrin Tritunggal termasuk doktrin monoteisme yang percaya kepada Allah yang Maha Esa.  Dan Allah Yang Maha esa itu mempunyai tiga pribadi bukan satu. Pribadi yang pertama adalah Allah Bapa, pribadi yang kedua adalah Allah Anak (Yesus Kristus) dan pribadai yang ketiga adalah Roh Kudus. Tiga pribadi bukan tiga Allah, dan satu Allah tidak berarti satu pribadi.  Tiga pribadi itu mempunyai satu esensi atau sifat dasar (Yunani: Ousia, Inggris: Substance) yang sama adalah Allah, namun ketiganya mempunyai satu ousia yaitu esensi Allah (Esra Alfred Soru, 2002:3)

Yesus dan Bapa itu satu dalam hakekatNya, Satu dalam PekerjaanNya, Satu dalam tujuannya. Hakekat dari Yesus dan Bapa dapat dilihat dari tujuan dan pekerjaannya.  Tujuan Allah Bapa adalah menyelamatkan manusia dari dosa, Dia memiliki inisiatif yaitu mengambil rupa menjadi manusia supaya keadilan dan kasihnya dapat diketahui oleh manusia. Yesus sebagai pengantara antara manusia dan Bapa supaya manusia mendapat hidup kekal dengan percaya kepadaNya.

Manusia tidak mempunyai kuasa atas hidupnya sendiri dan tidak dapat  menolak kematian, tetapi Yesus memiliki kekuasaan mutlak atas hidupnya sendiri dan Live giving power yaitu Yesus dapat mengaruniakan hidup kepada manusia sehingga jelas Yesus adalah Allah sendiri. Bukti tentang kemahakuasaan Kristus menyingkapkan fakta bahwa ia memiliki sifat-sifat lainnya yang ada pada Allah. (Josh Mc. Dowel, 2000:62). Pengetahuan Yesus Kristus jauh melampaui pengetahuan manusia yang fana. Ia bukan sekedar yang paling berhikmat dari seluruh manusia fana. Hikmatnya jauh melampaui keterbatasan manusia dan hanya dapat digolongkan sebagai pengetahuan yang sempurna (Dowel, 2000:60)

KESIMPULAN

Yesus mengungkapkan bahwa Dia dan Bapa adalah satu karena Yesus berasal dari Bapa dan Yesus adalah Allah sendiri.  Pernyataan Yesus dan Bapa adalah satu mengarah kepada ketritunggalan Allah yang sering menjadi pertanyaan yang menyerang. Serangan pertanyaan ini terutama di kalangan kaum muslim yang tidak menyetujui Ketritunggalan Allah.  Mereka mengklaim bahwa Allah orang Kristen ada tiga.

Pemahaman Kristologi yang diperkuat akan mampu menjawab pertanyaan yang disampaikan orang muslim. Penjelasan tidak hanya diselesaikan dengan akal saja tetapi juga menggunakan iman. Penjelasan ini perlu adanya pengertian perbedaan pemakaian bahasa dalam Islam dan Kristen.  Penting juga orang Kristen belajar mengenai pemahaman Allah dalam ajaran Islam dan kemudian dapat menerapkan pemahaman kristen dalam bahasa, istilah dan penggambaran yang mudah dimengerti.

Kekuatan Iman orang Kristen dapat diketahui dan diukur seberapa mampu untuk berapologetika. Kemampuan ini ada karena pemahaman yang kuat tentang doktrin ajaran kebenaran sesuai dengan Alkitab dengan memiliki iman dari pertolongan Roh Kudus.

DAFTAR PUSTAKA

Ambrie Hamram. 1976. Korespondensi Agama Islam-Kristen. Jakarta: BPK Sinar Kasih.

Bambang Arkhimandrit Daniel. 2001. Allah Tritunggal. Jakarta: Satya Widya Graha.

Brill J. Wesley. 1994. Tafsiran Injil Yohanes. Bandung: Yayasan Kalam Hidup.

Dowell Josh M C, Bart Larson. 2000. Allah menjadi Manusia. Bandung: Lembaga Literatur Babtis.

Hagelberg Dave. 2001. Tafsiran Injil Yohanes. Yogyakarta: Yayasan Andi.

Indra Ichwei. 1999. Allah Tritunggal. Pelayanan Mandiri “Mikhael”.

__________.1999.Teologi Sistematika. Bandung: Lembaga Literatur Baptis.

Manzur Yohanes D. 1992. Memberi jawab Iman di Konteks Masyarakat Indonesia. Salatiga: STTJKI.

Pink A W. 1945. Tafsiran Injil Yohanes. Surabaya: Yakin.

Soru Esra Alfred Soru. 2002. Tritunggal yang Kudus. Bandung: Lembaga Li-teratur Baptis.

Towns Elmer L. 1981. Nama-Nama Allah. Yogyakarta: Yayasan Andi.

____________. 1985. Nama-Nama Allah. Yogyakarta: Yayasan Andi.

BibleWork. 2008. Yohanes 10:30.

Volume 4 No 2

PENOLONG YANG SEPADAN MENURUT KEJADIAN 2:18-25

  Sulistyono

Alumni Sekolah Tinggi Teologia Jemaat Kristus Indonesia

Salatiga, Indonesia

ABSTRACT

A suitable helper is important in the Christian life, because Lord said “It is not good for man to be alone.” (Genesis 2:18). Lord has created a suitable helper for man to be his wife.  Lord as The Creator has united two human that is man and woman through sacred marriage.  It is God’s desire that couple has a contribution to other creations, moreover the couple can be fruitful and increase in number, fill the earth and subdue it (Genesis 1:28).

The couple that Lord united in sacred marriage, described in the Holy Bible like relationship between Lord and His people.  He did not want His people having an affair and worship another god, as the law in the marriage.  Lord did not want the occurrence of polygamy or immorality, He wanted monogamy.   Than, Lord does not want any divorce in Christian marriage.

The purpose of the Lord in making a family is to glorify His name, so as a Christian family must glorify Lord in the family.  Glorify Lord through action and not just with words.  God’s desires that the Christian family has to be witness about Jesus Christ that He is Lord and Savior for everyone.

Keyword: Lord God, marriage, family, couple.

 PENDAHULUAN

Allah sebagai Sang Kreator yang telah menciptakan manusia untuk tujuan yang mulia yaitu beranak cucu dan untuk memelihara segala ciptaan (Kej. 1:28). Allah menciptakan manusia sebagai makhluk individual yang cende-rung mementingkan kepentingan pribadi.  Menurut Epi Curos bahwa “Self interest rules all men. Kepentingan pribadi mengatur atau menguasai seluruh manusia itulah sebabnya mengapa manusia selalu berusaha untuk memenuhi kesenangan dan kesukaan untuk kepentingan dirinya (Petrus Baela, 2013;5). Selain itu manusia juga makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Aristoteles seorang filsuf Yunani mengatakan bahwa:  “Manusia adalah suatu zoon politikon atau sering disebut man is naturally a community. Pernyataan tersebut mengandung arti bahwa manusia memiliki sifat untuk senantiasa mencari kumpulan-kumpulan dan pergaulan hidup dengan sesamanya. Oleh sebab itu Allah katakan:  “Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja,” (Kej. 2:18).

Kata-kata “tidak baik” dalam ayat delapan belas ini tidak bertentangan dengan kata-kata “sungguh amat baik” dalam Kejadian 1:31 karena Kejadian 1:31 diucapkan Allah setelah Hawa ada, sedangkan Kejadian  2:18 diucapkan oleh Allah sebelum Hawa ada.  Kata “tidak baik” tidak berarti jelek, tetapi dapat juga diartikan tidak lengkap. Allah menilai tidaklah lengkap apabila manusia itu seorang diri saja. Yakub Tri Handoko mengatakan demikian:

Tindakan Allah dalam menilai hasil ciptaan-Nya bukan pertama kali ini saja diungkapkan. Bagaimana pun, ada yang menarik dalam bagian ini: untuk pertama kali Allah melihat hasil ciptaan-Nya dan mengatakan “tidak baik” (2:18).  Sebelumnya, setiap ciptaan pasti baik (1:4, 10, 12, 18, 21, 25), bahkan keseluruhan ciptaan adalah sungguh amat baik (1:31).  Penilaian “tidak baik” di sini tampaknya mendapat penekanan khusus, yang terlihat dari posisi frase ini di bagian awal perkataan TUHAN Allah. (Yakub Tri. Online: http: //www. gkri-exodus.org/. Diakses 14 Januari 2013.)

Kejadian 2:18 adalah untuk pertama kalinya di dalam Perjanjian Lama dituliskan kata “tidak baik” dan yang mengatakan adalah Allah sendiri.  Allah telah membuat manusia memerlukan orang lain. Manusia tidak dapat memenuhi peranannya untuk berkuasa atas makhluk ciptaan tanpa adanya perempuan dan ia juga tidak dapat memenuhi perintah untuk bertambah banyak dan memenuhi bumi tanpa adanya perempuan. Bible Works menuliskan demikian:

Genesis 2:18

((wayomer YHWH Elohim lotob hazot haadam lebaddo esehlo ezer kenegdo).

Alkitab Terjemahan Lama  menterjemahkan demikian:  “Dan lagi berfirmanlah Tuhan Allah demikian: Tiada baik manusia itu seorang orangnya, bahwa Aku hendak memperbuat akan dia seorang penolong yang sejodoh dengan dia.” (Alkitab Terjemahan Lama, 1954).  Kata Ibrani yang yang diterjemahkan tidak baik adalah “lotob. “Lotob terdiri dari dua kata yaitu “loadalah “kata ingkar yang erarti tidak” dan “tob adalah “kata sifat yang berarti baik.” (Reed; 67).

Allah memang benar-banar mengatakan bahwa tidak baik apabila manusia itu seorang diri saja. Oleh sebab itu perlu adanya seorang penolong yang sepadan bagi laki-laki. Kata kunci yang penting selanjutnya yang terdapat dalam ayat delapan belas adalah “penolong yang sepadan”.  Penolong yang sepadan diterjemahkan dari bahasa Ibrani “ezer kenegdo. Kata “ezer adalah “kata benda maskulin tunggal yang berarti helper yaitu penolong.” (Reed, 87)  Kata “kenegdo adalah bentukan dari kata “negedyang berarti “yang sepadan” dan menggunakan kata depan K. “ke dengan sufix orang ketiga tunggal yang menandakan kepemilikan. (Reed, 78). Dengan demikian ”ezer kenegdosecara harafiah berarti penolong yang sepadan dengan dirinya, yaitu dengan manusia itu.  Kata ini hanya muncul dalam Kejadian 2:18 dan 20, selain itu tidak ada.

Terjemahan lain dalam bahasa Jawa untuk kata penolong yang sepadan adalah rowang kang sembada. Rowang adalah kata yang dipakai untuk mitra, teman, dapat juga diartikan rekan kerja.  Dalam Kejadian 2:18 ini apabila dalam versi bahasa Jawa lebih sesuai jika diartikan mitra. Rowang kang sembada berarti mitra yang sesuai. Allah bermaksud hendak menciptakan “seorang” yang memang sesuai dengan Adam, yang dapat menjadi mitra dalam hidupnya dan dalam menjalankan perintah-Nya (salah satunya untuk beranak cucu).

Sebelum masuk ke dalam eksegesa teks Kejadian 2:18-25 secara khusus, terlebih dahulu penulis akan menjelaskan latar belakang teks Kitab Kejadian pasal dua supaya mendapatkan keterangan yang jelas.

LATAR BELAKANG TEKS KEJADIAN 2:18-25

Kitab Kejadian adalah kitab pertama yang ditulis di dalam Perjanjian Lama, kitab ini juga merupakan salah satu dari kelima kitab Musa yang biasa disebut Pentateukh yaitu suatu kitab dari lima (penta) jilid.  Terjemahan dalam bahasa Inggris adalah Genesis. J.Blommendaal menuliskan mengenai pengertian Genesis demikian, “Kata genesis berarti kejadian (terjadinya). Di dalam bahasa Ibrani disebut “baresyit yang berarti pada mulanya, yaitu kata pertama dari buku ini.”(1979;23) Kitab kejadian menurut Wikipedia dituliskan demikian:

Kitab Kejadian adalah kitab pertama dari Alkitab dan kitab Taurat Musa atau Tanakh.  Dalam bahasa Ibrani kitab ini disebut baresyit yang berarti “pada mulanya”, sesuai dengan kata pertama dari kitab ini dalam bahasa Ibrani. Dalam bahasa Inggris, kitab ini disebut dengan nama Genesis.  Nama ini diambil dari terjemahan bahasa Latin Santo Hieronimus yang mengambilnya dari Septuaginta (LXX), terjemahan bahasa Yunani (Γένεσις, Genesis).  Nama ini merujuk pada Kejadian 2:4 “Demikianlah riwayat penciptaan langit dan bumi.” Kata “riwayat” dalam bahasa Ibrani “toledot” yang berarti memperanakkan atau keturunan. Kitab ini menceritakan permulaan segala sesuatu, baik itu asal-usul alam semesta dan juga bangsa Israel. (11 Januari 2013)

Kitab Kejadian menceritakan awal mula segala sesuatu termasuk manusia. Manusia pertama yang Allah ciptakan yaitu Adam sebagai laki-laki dan kemudian Hawa sebagai perempuan yang menjadi penolong bagi laki-laki. Kisah penciptaan perempuan dijelaskan secara terperinci pada pasal dua karena pada pasal satu tidak dijelaskan. Latar belakang teks kitab Kejadian akan dijelaskan lebih lanjut mengenai terjemahan, sumber, kritik teks dan kritik sastra, khususnya mengarah pada teks Kejadian 2:18-25.

  1. Terjemahan

Alkitab telah diterjemahkan dalam banyak bahasa di dunia, dalam bagian ini akan dibahas mengenai berbagai terjemahan supaya di dapat pengertian yang jelas mengenai “penolong yang sepadan” yang diambil dari kitab Kejadian pasal dua.  Pada pasal dua ayat delapan belas diawali dengan Allah berfirman “tidak baik” dan kemudian dilanjutkan dengan “Aku akan menjadikan penolong yang sepadan.” Kata penolong yang sepadan ini yang akan dibahas lebih lanjut.

Terjemahan New International Version (NIV) menterjemahkan kata “penolong yang sepadan” dengan “a helper suitable.”  A helper suitable berarti seorang penolong yang pantas, pantas dalam artian sesuai.

Kitab Suci bahasa Jawa menterjemahkan demikian “Sunkaryakne rowang kang sembada dadi bojone.”  (Kitab Suci, LAI. 2006).  Rowang sendiri adalah kata yang dipakai untuk mitra, teman, dapat juga diartikan rekan kerja kerja.  Rowang kang sembada berarti, perempuan yang memadai untuk menjadi mitra dan istri bagi laki-laki.

  1. Sumber

Kejadian 2:18-25 termasuk ke dalam sumber Yahwist karena berisi tentang penciptaan. J. Blommendaal menuliskan beberapa ciri yang terdapat dalam sumber Yahwist, yaitu:

  1. Allah selalu disebut dengan nama Yahwe, juga nenek moyang Israel sudah mengenal nama itu.
  2. Pada umumnya Allah di dalam wahyu-Nya (penyataan-Nya) dilukiskan dan digambarkan dalam bentuk seorang manusia (antropomorf).
  3. Sumber ini bersifat universalitis; Allah adalah Khalik langit dan bumi (Kejadian 2:4a dst), dan Allah seluruh dunia dan semua manusia. (1978;18)

Sumber Yahwist menitikberatkan pada pemilihan Israel untuk menjadi bangsa pilihan yang akan mendiami tanah perjanjian (Kanaan) dan melalui bangsa Israel maka semua bangsa akan mendapat berkat. Perbuatan-perbuatan yang besar telah Ia nyatakan kepada bangsa pilihan-Nya itu, dari pemeliharaan di Mesir hingga sampai ke tanah Kanaan. Selain itu juga ciri dari sumber Yahwist yaitu tulisannya tersusun secara terperinci.

Kejadian 2:18-25 memperlihatkan bagaimana rincian penciptaan perempuan dari awal hingga akhir. Penulis berusaha menuliskan rinciannya sehingga lebih jelas asal-usul perempuan diciptakan. Kitab Kejadian ini seperti ada dua kisah penciptaan yaitu Kejadian pasal pertama dan kedua.  Sebenarnya Allah tidak menciptakan manusia dua kali, hanya saja pada pasal dua karena ditulis dari sumber Yahwist sehingga ditulis secara rinci.

  1. Kritik Teks

Teks Kejadian 2:18-25 berisi penciptaan perempuan.  Perempuan diciptakan oleh Allah karena Ia melihat bahwa tidak baik apabila laki-laki hanya seorang diri. Binatang yang sudah ada tidak dapat menjadi rekannya (ayat 20), sehingga Allah merasa perlu untuk menciptakan penolong bagi laki-laki. Pe-rempuan diciptakan karena inisiatif dari Allah sendiri. Menarik, ketika Allah membentuk perempuan tidak lagi menggunakan bahan yang sama dengan bahan ketika Allah menciptakan laki-laki yaitu dengan debu tanah (Kej. 2:7).  Allah justru membentuk perempuan dari bagian tubuh laki-laki yaitu tulang rusuk (Kej. 2:22).

Kejadian 2:4-25 adalah suatu pengembangan teologis khusus dari Kejadian 1:1-2:3.  Sebenarnya pasal dua merupakan pendahuluan atau latar belakang bagi pasal tiga. Kejadian 1:31 ditutup dengan kalimat “Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.” Kalimat ini menunjukkan awal mulainya dunia dengan maksud kehendak Allah (kebaikan). Sebenarnya apabila diperhatikan pada pasal 2:1-3 lebih cocok apabila digabungkan dalam pasal satu karena Kejadian 1:1-2:3 adalah satu satuan tulisan, rangkaian penciptaan sampai hari ketujuh yaitu hari perhentian yang dikuduskan oleh Allah.

Secara teologis Kejadian 2:4-25 lebih berhubungan dengan pasal tiga dari pada pasal satu.  Karena ini merupakan rentetan dari penciptaan perempuan yang diciptakan Allah untuk menjadi penolong sampai kepada drama kejatuhan manusia yang diawali dari perempuan yang mendengarkan bujukan Iblis dengan konsekuensinya bagi dunia sampai sekarang (lihat Rm. 5:12-21).

  1. Kritik Sastra

Penulisan kitab Kejadian 1-11 menggunakan dua jenis sastra yang sangat berbeda. Sastra pertama menggunakan susunan yang logis dan tersusun rapi (bersifat skematis). Sastra ini seperti yang tertulis di dalam Kejadian 1; 5; 10; 11:10-26. Sedangkan sastra yang kedua menggunakan bentuk cerita.  Sastra ini meliputi Kejadian 2-3; 4; 6-9; 11; 1-9. Dengan demikian Kejadian 2:18-25 termasuk dalam sastra bentuk cerita yang di dalamnya berisi cerita bagaimana Allah menciptakan perempuan.  Menurut W.S. Lasor,

Apabila isi dan susunan Kejadian 1-11 diperhatikan dengan seksama, banyak hal yang dapat diamati yang akan menolong kita menentukan jenis sastra yang dipakai, meskipun sebagian besar masalah tetap ada. Dalam pasal-pasal ini terdapat dua jenis sastra yang sangat berbeda, masing-masing dengan gaya dan kaidahnya.  Jenis sastra yang pertama (meliputi Kejadian 1; 5; 10; 11:10-26), mempunyai ciri khas yaitu susunan logis yang cermat dan bersifat skematis serta hampir mengikuti rumusan tertentu….  Jenis sastra yang kedua (Kejadian 2-3; 4; 6-9; 11; 1-9) jelas berbeda.  Di sini juga terdapat keteraturan dan peningkatan tetapi yang dipergunakan adalah bentuk cerita.( Lasor, 114)

Kejadian pasal satu dan dua apabila diperhatikan dengan seksama memang mengandung sastra yang berbeda. Bahasa yang digunakan pun berbeda. Kejadian pasal satu ketika Allah menciptakan langit dan bumi serta segala isinya menggunakan kata kerja “bara” yang artinya menciptakan, “Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya…laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” (Kej. 1:27). Kejadian pasal dua menggunakan kata “yatsar yang artinya membentuk, “ketika itulah Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah….” (Kej. 2:7). W.S. Lasor kembali menuliskan demikian:

Perbedaan-perbedaan dalam konsep dan kaidah sastra antara Kejadian 1 dan 2 juga ditemukan dalam cara yang berbeda untuk mengungkapkan penciptaan. Keduanya menggunakan istilah umum asa ‘membuat’, tetapi Kejadian 1 menggunakan kata bara ‘menciptakan’, sebuah kata kerja yang hanya digunakan dengan Allah sebagai subyek dan tidak pernah dihubungkan dengan bahan yang digunakan untuk menciptakan obyek. Kejadian 2 memakai istilah yatsar ‘membentuk’, istilah teknis untuk kegiatan seorang penjunan yang membentuk tanah liat menjadi bentuk yang dikehendakinya. (Lasor, 115)

Keterangan di atas menunjukkan peran penting antara keduanya, ini bukan berarti antara Kejadian satu dan Kejadian dua berlawanan. Kejadian satu menjelaskan bagaimana Allah sendiri sebagai subyek yang telah menciptakan manusia dan dalam Kejadian dua menjelaskan bagaimana Allah membentuk manusia dari tanah seperti seorang tukang periuk yang bertindak aktif dengan tangannya.

PENOLONG YANG SEPADAN MENURUT KEJADIAN 2:18-25

Allah menghendaki supaya manusia itu berpasangan sehingga memungkinkan untuk menjalankan amanat-Nya yaitu bearanak cucu.  Penolong yang Allah berikan kepada laki-laki sebagai pasangan adalah penolong yang sepadan. Kejadian 2:18-25 memberikan penjelasan mengenai penolong yang sepadan yang telah Allah berikan kepada Adam, sehingga pasangan manusia yang pertama ini dapat dikatakan pasangan yang sepadan, di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Sama-Sama Manusia

Manusia merupakan ciptaan Allah yang paling sempurna karena manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.  Allah menciptakan manusia pertama yaitu Adam, kemudian Allah menciptakan manusia yang kedua yaitu Hawa. Allah menggunakan cara yang berbeda ketika Ia menciptakan manusia dan menciptakan segala binatang maupun tumbuhan. Allah secara khusus membentuk manusia menggunakan bahan yang ada kemudian Ia memberi nafas kepada manusia itu, hal inilah yang membedakan manusia dengan ciptaan yang lain.  Manusia diberi nafas oleh Allah sendiri dan dari nafas Allah lah manusia itu hidup.

Manusia pertama yaitu Adam dibentuk oleh Allah mengunakan debu tanah (Kej. 2:7), sedangkan Hawa dibentuk Allah menggunakan tulang rusuk laki-laki (Kej. 2:21-22).  Sebelum perempuan dibentuk oleh Allah, terlebih dahulu Ia membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara (Kej. 2:19).  Binatang-binatang yang Allah bentuk dalam Kejadian pasal dua ini menggunakan bahan yang sama dengan manusia pertama, yaitu dengan menggunakan debu tanah hanya saja binatang tidak dihembusi nafas oleh Allah. Kesamaan bahan di dalam Allah menciptakan baik manusia dan binatang tidak menjadi patokan untuk kesepadanan. Ternyata binatang-binatang yang diperhadapkan kepada manusia itu tidak ada satu pun yang sepadan dengan dirinya.

Manusia sebagai ciptaan Allah yang memiliki keistimewaan karena manusia dapat berpikir dan memiliki hati nurani. Dengan demikian jelas bahwa manusia tidak dapat disamakan atau bahkan disepadankan dengan binatang, hal ini juga menepis pandangan teori evolusi yang menyatakan bahwa manusia berasal dari kera.  Samuel J. Schultz menulis demikian:

Menurut pandangan Alkitab, manusia itu makhluk yang sangat cerdas dan yang bertanggung jawab. Adam berbeda sekali dan lebih unggul daripada binatang-binatang, ketika Allah menciptakannya. Ia diberi kehormatan untuk menamai binatang-binatang dan memerintah mereka serta mengusahakan Taman Eden.  Ia mampu bersekutu dengan Allah.  Perbedaan antara manusia dengan binatang lebih nyata lagi karena manusia tidak bisa berteman dengan sebelum saat Allah menciptakan Hawa sebagai temannya (penolong yang sepadan dengan dia; 2:20). (1983; 9)

Allah memberikan perintah kepada manusia untuk memberi nama kepada segala ternak, segala burung di udara dan kepada segala binatang hutan (ayat 20). Sebelum menciptakan perempuan, Allah sengaja membawa binatang-binatang kepada laki-laki supaya ia melihat apakah ada yang cocok dengannya sebagai pasangan, karena semua binatang tersebut juga berpasang-pasangan. Namun, ternyata manusia itu tidak menemukan yang sepadan dengan dirinya sendiri.  Budi Asali menulis sebuah artikel demikian,  “Allah ingin Adam sendiri menyadari kebutuhannya akan seorang teman.  Karena itu Allah lalu membawa binatang-binatang kepada Adam (ayat 19-20).  Dengan Adam melihat binatang-binatang itu semua mempunyai teman, maka ia akan merasakan kebutuhan akan teman.” (http://www.golgothaministry.org/kejadian/kejadian-2_4-25.htm; 9 Januari 2013).

Adam telah menjalankan perintah Tuhan untuk memberikan nama kepada segala ternak, burung dan binatang hutan namun baginya sendiri tidak ada yang sesuai untuk dijadikan pasangan. Manusia itu merasa kesepian, ia mengerjakan tugasnya memberikan nama kepada segala binatang itu tanpa adanya teman sehingga ia merasa perlu seorang penolong. Allah sebagai Sang Kreator yang berinisiatif membentuk “manusia yang lain” yang sepadan dengan laki-laki itu.  Allah tahu bahwa menusia tidaklah sepadan dengan binatang, karena manusia memiliki nature Allah dalam dirinya.

Allah kemudian membentuk manusia yang lain yang dinamakan perempuan, sehingga memungkinkan adanya komunikasi yang terjalin antar keduanya dan juga memungkinkan keduanya untuk hidup bersama menjadi keluarga untuk menjalankan amanat Allah yaitu bertambah banyak.

  1. Berbeda Jenis Kelamin (Laki-Laki dan Perempuan)

Sepadan tidak selalu harus sama, begitu juga dengan kesepadanan pasangan manusia. Manusia dapat dikatakan pasangan suami istri sepadan apabila berbeda jenis kelamin. Kata yang dipakai adalah “ezer kenegdo atau dalam bahasa Inggris diterjemahkan a helper suitable.  Kata suitable artinya adalah sesuai, namun di dalam Bible Works suitable disini juga dapat berarti opposite yang artinya “kebalikan atau berlawanan.” (Echols, John M. 1992; 406). Menarik sekali karena kesepadanan ternyata haruslah berbeda. Sepasang suami istri dapat dikatakan sepadan atau sesuai apabila berbeda jenis kelaminnya.

Manusia pertama yang telah Allah ciptakan berjenis kelamin laki-laki (maskulin) kemudian Allah membentuk manusia kedua berjenis kelamin perempuan (feminim). Keterangan lebih jelas tersurat dalam teks bahasa Ibrani dibandingkan dengan terjemahan dalam bahasa Indonesia.  Ayat dua puluh tiga mencatat bagaimana Adam mengutarakan pernyataannya kepada perempuan yang dibentuk Allah dari bagian tubuhnya.

Ayat dua puluh tiga ini sangat menarik karena untuk pertama kalinya perkataan manusia dicatat, sebelumnya dalam ayat dua puluh ketika manusia memberi nama kepada segala ternak, burung dan binatang hutan tidak dicatatkan apa yang ia katakan. Ucapan dari manusia ini merupakan pernyataan yang mengandung arti penting.  Kredo manusia itu ialah “inilah dia tulang dari tulangku dan daging dari dagingku.” (Kej. 2:23). Kata Ibrani yang digunakan adalah “esem measama ubashar mibsari.

Sebelum kalimat itu diucapkan ada kata yang tidak diterjemahkan secara lengkap dalam Alkitab Bahasa Indonesia (TB) yaitu kata; “zot hapaam.  Kata taz (zot) dalam bahasa Inggris diterjemahksn this artinya ini dan kata “hapaam” dalam bahasa Inggris diterjemahkan at last yang artinya akhinya. Secara harafiah kata “zot hapaam dapat diartikan “pada akhirnya inilah.” Perkataan pada “akhirnya” sebenarnya mengandung arti yang penting, ini menunjukkan penantian (biasanya dipakai untuk penantian yang lama).

Adam telah menanti, meski tidak dijelaskan berapa lama ia menanti yang jelas dalam penantiannya itu ia menjalankan perintah Tuhan yaitu memberi nama binatang-binatang.  Adam memberikan nama segala binatang itu pasti tidak akan selesai dalam sehari atau dua hari (hitungan manusia), oleh sebab itu ada rasa penantian yang mendalam dari diri Adam.  Setelah itu akhirnya Allah memberikan seorang yang dibentuk-Nya dari bagian tubuh laki-laki sehingga laki-laki itu dapat berkata “akhirnya, inilah….”

Menurut kata yang dipakai untuk “tulang dan daging” secara harafiah “esem artinya adalah tulang dan pada kata berikutnya yaitu “measama dengan kata depan “min dan dengan sufrix orang pertama tunggal yang menandakan kepemilikan dari Adam sendiri. Demikian halnya dengan kata “bashar secara harafiah berarti daging dan juga diikuti sufix orang pertama tunggal.  Dengan demikian didapat keterangan bahwa perempuan adalah memang benar diambil dari tulang dan daging laki-laki itu sendiri.

Kata perempuan yang digunakan adalah “ishsha” adalah kata benda feminim tunggal yang artinya perempuan. Perempuan disebut “ishsha karena berasal dari laki-laki ‘ish. Akhiran yang terdapat pada kata ‘ishsha yaitu ‘ah adalah bentuk feminin.  Charles F. Pfeiffer menuliskan demikian,  “Woman (‘ishsha) … man (‘ish). These two Hebrew words are much alike, even in sound. The only differencebetween them is that the word for “woman” has a feminine ending.”(Charles F. Pfeiffer, 963;5)

Kalimat di atas dapat diartikan bahwa perempuan (‘ishsha) dan laki-laki (‘ish).  Dua kata Ibrani ini hampir sama pada penulisan dan lafalnya.  Perbedaannya yaitu pada kata perempuan memiliki akhiran feminim. Gender di dalam bahasa Ibrani sangat penting karena mempengaruhi arti dari kata tersebut, misalnya kata “adam adalah kata benda maskulin tunggal yang artinya manusia sedangkan kata “adamah adalah kata benda feminim tunggal yang artinya tanah. Sama-sama dari akar kata yang sama namun karena gendernya berbeda sehingga artinya pun berbeda.

Allah dengan sengaja membentuk perempuan untuk menjadi penolong bagi laki-laki.  Allah tidak pernah menciptakan manusia berjenis kelamin ganda (hermaprodit) dan juga Allah tidak pernah menciptakan jenis gender ketiga (setengah laki-laki dan setengah perempuan) oleh sebab itu biar bagaimanapun laki-laki akan tetap membutuhkan perempuan untuk menjalankan amanat untuk bertambah banyak. Secara unik Allah telah membentuk dua jenis kelamin manusia yang berbeda, sehingga dengan perbedaan jenis kelamin membuat keduanya saling menyadari akan kebutuhan satu sama lain.

Setelah Tuhan selesai membentuk perempuan kemudian diberikannya pe-rempuan itu kepada laki-laki untuk menjadi istrinya.  Charles F. Pfeiffer  kembali menuliskan demikian, “When God was ready whith this new creation, He ‘gave her away’ in marriage to her husband.”  Gave her away berarti memberikannya dengan cuma-cuma, Allah sendiri yang membawa perempuan itu kepada laki-laki, ini berarti bentuk perhatian dari Allah dan inisiatif dari Allah sendiri.

  1. Percaya Kepada Satu Allah yang Sama

Adam dan Hawa percaya kepada satu Allah karena merupakan manusia pertama yang Allah ciptakan, tidak ada Allah lain yang mereka percayai.  Pada waktu Adam dan Hawa dipertemukan oleh Allah, mereka belum jatuh ke dalam dosa, sehingga kehidupan berjalan dengan baik. Hubungan antara manusia dengan Allah sangat baik sehingga manusia dapat berkomunikasi secara langsung dengan Allah. Dasar di dalam bersatunya laki-laki dan perempuan pertama di taman Eden adalah Allah sendiri.  Keluarga pertama yang dibentuk oleh Allah bertujuan untuk memuliakan Allah, sehingga iman merupakan modal penting untuk membangun rumah tangga.

Bersatunya laki-laki dan perempuan merupakan persatuan segala aspek kehidupan. Laki-laki dan perempuan telah Allah persatukan sehingga penting untuk dimengerti bahwa aspek kerohanian di antara keduanya haruslah juga serujuk. Spiritual dalam keluarga akan terjaga dengan baik apabila keduanya memiliki kepercayaan terhadap Allah yang sama.

Adam dan Hawa sebagai manusia pertama yang Allah persatukan menjadi keluarga telah hidup dengan berkeyakinan kepada Allah yang sama.  Kitab Kejadian membuktikan bahwa Adam dan Hawa percaya akan satu Allah, yaitu bahwa Adam dan Hawa dibentuk oleh Allah yang sama dan diberkati oleh Allah yang sama.

  • Dibentuk oleh Allah yang Sama

Allah yang telah membentuk manusia pertama yaitu Adam (Kej. 2:7), dan Allah juga yang telah membentuk manusia kedua yaitu Hawa (Kej. 2:22).  Allah yang sama telah membentuk manusia dan memberikan kehidupan bagi keduanya.  Dengan tangan-Nya sendiri Allah membentuk manusia seperti tukang periuk yang membentuk periuk dari tanah liat.

Allah sebagai subyek yang telah membentuk manusia baik laki-laki maupun perempuan.  Allah membentuk laki-laki ditulis pada Kejadian 2:7 sedangkan Allah membentuk perempuan ditulis pada Kejadian 2:22.  Karena pasal dua ditulis dari sumber Yahwist maka kata yang dipakai adalah “YHWH Elohim atau yang dalam bahasa Indonesia diartikan TUHAN Allah.  Baik pada Kejadia 2:7 maupun pada Kejadian 2:22 memakai kata yang sama. “YHWH) adalah sebutan khusus bangsa Israel untuk Allah.

Karena manusia pertama yaitu Adam dan Hawa telah dibentuk secara langsung oleh Allah dan tidak melalui proses biologis maka keduanya pun beriman kepada Allah yang telah membentuk dan mempersatukan mereka.

  • Diberkati oleh Allah yang Sama

Adam dan Hawa adalah satu-satunya pasangan yang tanpa orang tua (jasmani) dan tanpa saksi telah diberkati oleh Allah secara langsung menjadi suami istri. Sebagai manusia pertama tentunya Adam dan Hawa memiliki kisah yang tidak akan pernah dialami oleh orang lain, karena hanya pasangan inilah yang secara langsung telah Allah berkati menjadi sepasang suami istri.

Tokoh utama dalam kisah pernikahan yang tercatat dalam Kitab Kejadian adalah Allah sendiri. Allah telah berinisiatif membentuk manusia untuk memelihara dan mengusahakan Taman Eden dan Allah yang sama telah berinisiatif membentuk perempuan untuk menjadi penolong bagi manusia itu. Dengan adanya perempuan maka Allah mempersatukan antara laki-laki dan perempuan untuk menjadi keluarga. Karena keduanya percaya kepada Allah maka memungkinkan untuk Allah memberkati menjadi pasangan. Pada dasarnya Allah adalah cemburu maka tidak mungkin akan memberkati pasangan yang salah satu tidak beriman kepada-Nya.

  1. Monogami

Monogami adalah pernikahan dengan satu istri dan satu suami.  Alkitab, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru mencatat mengenai mono-gami. Karena pada dasarnya Allah menghendaki pernikahan monogami dan bukan poligami, hanya ketidaktaatan manusia maka melakukan poligami.  Awal mula terjadinya poligami adalah ketika Lamekh mengambil Ada dan Zila menjadi istrinya (Kej. 4:19). Sejak awal Allah telah menciptakan manusia dengan hanya satu laki-laki dan satu perempuan dan dari satu pasang inilah menjadi banyak keturunan.

Allah mempersatukan Adam dan Hawa tidak dengan orang ketiga, dan Allah tidak menciptakan dua atau lebih perempuan untuk Adam pilih atau bahkan semua dijadikan istri, namun hanya seorang perempuan yang diambil dari salah satu tulang rusuknya untuk menjadi penolongnya. Adam dan Hawa sebagai contoh bahwa Allah memang menghendaki monogami dalam pernikahan. Pernikahan yang terjadi di taman Eden itu digambarkan di dalam Alkitab sebagai suatu penyerahan seorang laki-laki kepada seorang pe-rempuan dan penyerahan seorang perempuan kepada seorang laki-laki untuk seumur hidup. Pernikahan monogami adalah pernikahan asli yang dikehendaki Allah.

Poligami banyak terjadi di dalam Perjanjian Lama, namun yang menjadi dasar poligami bukanlah firman Tuhan, karena jelas-jelas firman Tuhan menghendaki monogami. Poligami terjadi dalam kisah beberapa tokoh Alkitab, contohnya pernikahan Abraham, Yakub, Daud, Salomo. Pernikahan Abraham dengan Hagar, yang adalah budak Sara istri Abraham dipandang sebagai akibat dari keragu-raguan Abraham dan Sara terhadap janji Tuhan, bahwa Abraham dan Sara akan memperoleh anak, walaupun usia mereka telah lanjut. Terjadi pula betapa kebahagiaan pernikahan Yakub terganggu oleh kecemburuan antara Rakhel dan Lea, yaitu kedua isterinya. Poligami juga terjadi dalam kehidupan Raja Salomo yang mencemarkan martabatnya sebagai raja karena ia mempunyai banyak selir sebagaimana lazimnya di-lakukan oleh raja-raja di Timur Tengah.

Karena pernikahan adalah gambaran hubungan antara Allah dengan umat-Nya maka Ia menghendaki pernikahan yang monogami. Allah tidak ingin diduakan oleh sebab itu dalam keluarga pun tidak diperbolehkan menduakan (beristri lebih dari satu atau bersuami lebih dari satu).

Tanggung Jawab Pasangan yang Sepadan

Cerita pada Kejadian 2:18-15 ini akhirnya ditutup dengan perihal rumah tangga yaitu suami dan istri. Allah telah membentuk keluarga pertama di bumi dan Ia telah memberikan tanggung jawab kepada suami dan istri untuk menjalankan kehidupan rumah tangga. Ada tiga bagian penting yang terdapat pada ayat dua puluh empat yaitu sebagai berikut:

  1. Meninggalkan Orang Tua

Laki-laki adalah kepala keluarga oleh sebab itu laki-laki bertanggung jawab atas keluarganya.  Hubungan yang paling erat adalah hubungan suami istri. Hubungan suami istri lebih erat jika dibandiingkan dengan hubungan antara orang tua dengan anak, oleh sebab itu firman Tuhan katakan “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya,” (ayat 24). Ungkapan ini tidak berarti pasangan yang telah menikah tidak lagi menghormati dan mengasihi orang tua mereka masing-masing.  Mereka harus tetap mengasihi orang tua mereka.  Tetapi yang dimaksudkan ialah setiap pasangan yang telah menikah harus mandiri dalam segala hal. Baik dalam hal keuangan maupun dalam pengambilan keputusan.  Saran orang tua sebagai masukan, tetapi keputusan harus bersumber dari pemikiran yang matang dari suami istri yang telah bersatu dalam pernikahan.

Kata meninggalkan yang digunakan dalam bahasa Ibrani adalah “yeazab. “yeazab adalah kata kerja qal imperfek, orang ketiga maskulin tunggal yang artinya ia (laki-laki) akan meninggalkan.  New International Version (NIV) menggunakan kata leave yang berarti “cuti atau meminta diri untuk berpamitan.” Laki-laki meninggalkan ayah dan ibunya berarti bukan hanya meninggalkan begitu saja seperti peribahasa “kacang lupa kulitnya” atau tanpa berterimakasih dan tanpa pamitan namun laki-laki meninggalkan orang tuanya tentunya dengan restu karena ada tujuan yang jelas yaitu bersatu dengan istrinya.

  1. Hubungan Suami Istri

Laki-laki setelah meninggalkan orang tuanya akan bersatu dengan istrinya. Kata bersatu memiliki arti yang penting karena bukan hanya sekedar together  atau bersama-sama. Kata Ibrani yang digunakan adalah “wedabaq.  “Wedabaq” di dalam Bible Work diartikan ke dalam dalam bahasa Inggris cling. Cling artinya adalah “berpegang teguh, berdampingan atau berlengketan, melengket atau melekat. Seorang suami bersatu dengan istrinya berarti benar-benar melekat dan bukan hanya hidup secara bersama dalam satu rumah. Hubungan kedekatan yang sangat erat karena Allah yang mempersa-tukan mereka.

Kedekatan hubungan antara suami dan istri melebihi dari semua hubungan pertemanan atau bahkan kekerabatan antara manusia (misalnya orang tua dan anak). Hubungan yang begitu dekat adalah bersatunya laki-laki dan perempuan (suami atau istri).  Perjanjian Baru menggambarkan hubungan suami dengan istri seperti Kristus dengan gereja-Nya (Efesus 5:23).

  1. Menjadi Satu Daging

Menjadi satu daging memiliki arti yang penting, kata Ibrani yang dipakai adalah “wehayu lebasar ekhad. “wehayu adalah kata kerja qal perfek waw konsekutif orang ketiga jamak, kata ini dapat diartikan become atau take place yang artinya dan mereka akan menjadi.  “lebasar adalah gabungan dari kata dasar “basar dengan awalan l. (le), “basar” adalah kata benda maskulin tunggal yang diartikan flesh yang artinya daging.  “ekhad adalah kata sifat maskulin tunggal yang artinya satu.  Dengan demikian “wehayu lebasar ekhad artinya adalah dan mereka akan menjadi satu daging.

Allah yang telah mempersatukan laki-laki dan perempuan sehingga keduanya menjadi satu daging.  Ayat ini dikutip oleh Tuhan Yesus yang tercatat dalam Perjanjian Baru yaitu di dalam Matius 19:5 dan Markus 10:7-9.  Ayat ini dipakai dalam suatu pernikahan karena “apa yang telah dipersatukan Allah tidak dapat diceraikan manusia.” Rencana Allah bagi pernikahan adalah satu orang laki-laki dan satu orang perempuan yang menjadi “satu daging”. Arah-an ini menolak perzinaan, poligami, homoseksual, kehidupan tidak bermoral, dan perceraian.

Alkitab memberikan gambaran yang jelas bagi suami istri. Hubungan suami istri dalam Perjanjian Lama digambarkan seperti hubungan Allah dengan umat-Nya sedangkan di dalam Perjanjian Baru seperti hubungan antara Kristus dengan jemaat-Nya.  Oleh sebab itu Allah tidak menghendaki adanya percabulan dan menduakan pasangan.

Ayat dua puluh lima menerangkan bagaimana keadaan laki-laki dan pe-rempuan ketika belum jatuh dalam dosa. Laki-laki dan perempuan itu telanjang tetapi mereka tidak merasa malu, ayat ini ada hubungannya dengan pasal tiga ayat tujuh yang menerangkan bahwa setelah jatuh ke dalam dosa mereka menjadi malu sehingga mereka membuat cawat dari daun. Laki-laki dan perempuan itu benar-benar telanjang secara fisik, dan pesan yang tersirat dari ayat tersebut bukan hanya secara fisik saja namun juga ada keterbukaan secara psikologis di antara keduanya.  Laki-laki dan perempuan yang sudah menjadi satu tidak ada lagi yang disembunyikan dari keduanya.

PENUTUP

Penolong yang sepadan adalah inisiatif dari Allah. Ia dengan sengaja membentuk perempuan sebagai penolong yang sepadan bagi laki-laki.  Karena Ia melihat tidaklah baik apabila laki-laki hanya seorang diri saja.  Penolong yang sepadan yang tercantum di dalam Kejadian 2:18-25 yaitu Hawa dibentuk Allah dari tulang rusuk Adam sendiri, jadi perempuan adalah bagian dari laki-laki.

Allah menciptakan dua jenis kelamin yang berbeda supaya keduanya saling melengkapi sehingga memungkinkan keduanya untuk beranak cucu dan bertambah banyak.  Allah tidak menciptakan manusia dengan berjenis kelamin ganda (hermaprodit) supaya ada rasa saling membutuhkan di antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki membutuhkan penolong, begitu juga dengan perempuan. Perempuan juga membutuhkan laki-laki untuk menjadi pasang-annya.

Penolong yang sepadan adalah pemberian dari Allah. Karena Allah sendiri yang menjadikan penolong bagi laki-laki yaitu perempuan maka keduanya ini dapat dikatakan pasangan yang sepadan. Jelas bahwa penolong yang sepadan harus sama-sama manusia. Dengan begitu keduanya dapat menjalin komunikasi dan juga dapat menjalin hubungan dengan Allah karena laki-laki dan perempuan memiliki rohani dari Allah sendiri. Laki-laki dan perempuan diciptakan serupa dan segambar dengan Allah dan diberi nafas oleh Allah sendiri.

Penolong yang sepadan juga harus berbeda jenis kelamin, yaitu laki-laki dan perempuan.  Dengan adanya perempuan untuk laki-laki maka Allah mempertemukan keduanya dan kemudian Allah persatukan menjadi keluarga. Oleh sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, karena hubungan yang istimewa antara manusia adalah hubungan suami istri. Hubungan suami istri melebihi dari hubungan antara orang tua dan anak. Orang tua dan anak dapat berpisah apabila anak membentuk keluarga baru namun suami dan istri yang telah Allah persatukan tidak dapat dipisahkan.

Allah menghendaki pernikahan yang monogami di dalam keluarga Kristen.  Ia tidak menghendaki adanya poligami di dalam rumah tangga Kristen. Alkitab menggambarkan hubungan suami istri sebagai gambaran hubungan antara Allah dengan umat-Nya. Karena Allah adalah cemburu yang tidak ingin diduakan maka Ia juga memberikan perintah kepada umat-Nya untuk tidak menduakan pasangan.

DAFTAR PUSTAKA

Trisna, Jonathan. 1987. Berpacaran dan Memilih Teman Hidup. Bandung: Kalam Hidup.

Baela, Petrus. 2013. Diktat Sosiologi. Salatiga: STT JKI.

Blommendaal, J. 1979. Pengantar Kepada Perjanjian Lama. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Bergant, Dianne dan Robert J. Karris. 2002.Tafsir Alkitab Perjanjian Lama. Yogyakarta: Kanisius.

Brown, Francis. 1979. Hebrew and English Lexicon. Amerika: Hendrickson Publishers.

Christenson, Larry. 1994. Keluarga Kristen. Semarang: Yayasan Persekutuan Betania.

Christenson, Nordis dan Larry. 1977. Pasangan Kristen. Surabaya: Citra Pustaka.

Echols, dkk. 1992. Kamus Inggris Indonesia. Jakarta: Gramedia.

Field, David. 1992. Kepribadian Keluarga. Yogyakarta: Kanisius.

Handoko. Yakub Tri. 2013. “Penolong yang Sepadan”. Online: http: //www. gkri-exodus.org/. Diakses 14 Januari 2013.

Hendricks, Howard G. 1995. Kasih Dasar Keluarga Bahagia. Bandung: Kalam Hidup.

Keil, C.F & F. Delitzsch. 1988. Commentary on the Old Testament 1. Michigan: William B. Eermans Publishing Company.

Kidner, Derek. 1967. Genesis an Introduction and Commentary. Illinois, USA: The Tyndale Press.

L, Stanton & Brena B. Jones. 2002. Facing the Facts The Truth About Sex and You. Surabaya: Momentum.

Lasor, W.S, D.A. Hubbard, F.W. Bush. 1993. Pengantar Perjanjian Lama 1. Jakarta: BPK. Gunung Mulia.

Online: http://www.id.wikipedia.org/. Diakses 11 Januari 2013.

Prince, Derek. 1995. Pernikahan Ikatan yang Kudus. Jakarta: Yayasan Peka-baran Injil Immanuel.

Reed, Carl. 2004. Kamus Sementara Bahasa Ibrani-Indonesia. Yogyakarta: STTII.

Tim & Beverly Lahaye. 1976.. Kehidupan Sex Dalam Pernikahan. Yogyakarta: Yayasan ANDI.

Van Gemeren, Willem A. 1996. New International Dictionary of Old Testament Theology & Exegisis volume 3. Michigan: Zondervan Publishing House.

Heath, W. Stanley. 1998. Tafsir Kitab Kejadian Pasal 1-11. Yogyakarta: Yayasan ANDI.

Asali,Budi.“Kejadian2:4-25.”Online:http://www.golgothaministry.org/kejadian/kejadian-2_4-25. htm. Diakses 9 Januari 2013.

%d blogger menyukai ini: